Jombang, LINGKARWILIS.COM – Gedung Kesenian Jombang berubah riuh pada Sabtu malam (22/11/2025) ketika tirai panggung dibuka. Alunan musik dan jogetan khas sound horeg—yang identik dengan nuansa karnaval Jawa Timur langsung memecah suasana dan membuat penonton terhibur sejak awal.
Pembukaan yang unik ini menjadi pintu masuk menuju pementasan terbaru Komunitas Tombo Ati bertajuk “Utiku Sayang”, produksi mereka yang ke-45.
Lakon tersebut diadaptasi dari karya Arifin C. Noer “Nenekku Tercinta”, namun disajikan dengan sentuhan baru yang lebih segar, penuh kritik sosial, dan diperkaya nuansa lokal ala Jombang. Cerita berfokus pada sosok nenek berusia lanjut yang tinggal bersama keluarganya, tetapi ketenangan hidupnya justru terusik oleh perebutan harta peninggalan.
Sutradara Alfi Rizqoh menjelaskan bahwa konflik tersebut sangat dekat dengan realitas masyarakat.
“Secara garis besar, ini tentang anak yang ingin menguasai harta ibunya. Lastri merasa kesal karena ibunya sering marah, lalu ia dan suaminya bersekongkol menyewa dukun untuk mempercepat kematian sang ibu,” ungkapnya seusai pertunjukan.
Baca juga : DPUPR Kota Kediri Lakukan Tambal Sulam Lubang Jalan di Mayjend Sungkono
Namun alurnya justru berbalik. “Niat jahat itu malah mengenai mereka sendiri. Bukan ibunya yang meninggal, tetapi anaknya, Dudung, yang tewas jatuh dari sound horeg,” lanjutnya. Adegan itu menjadi penegasan dari pesan moral tentang karma.
Alfi menekankan bahwa dalam tradisi manapun, tidak ada ajaran yang membenarkan seorang anak menyakiti orang tuanya. Pesan itu dieksplorasi lewat konflik batin yang terasa sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Penggunaan dialek Jawa khas Jombangan menjadi daya tarik tersendiri. Pementasan ini merupakan pengembangan dari versi sebelumnya yang pernah dibawakan di Festival Teater Surabaya.
“Naskah aslinya kami alihbahasakan mengikuti tradisi teater Jombang seperti Besutan dan Ludruk,” jelasnya.
Baca juga : Wakil Bupati Kediri Lepas Peserta Kediri Merdeka Run 2025
Ia menilai dialek Jombangan memiliki karakter khas parikan, intonasi meliuk, serta istilah lokal yang mulai jarang digunakan generasi muda. Salah satu dialog satir yang memancing gelak tawa bahkan menjadi sorotan:
“Yo opo kabarmu cak, suwi gak ketemu. Tak kiro lak yowes mati sampean iku.”
Elemen lain yang mencuri perhatian adalah kehadiran fenomena sound horeg dalam cerita. Ketika ditanya soal itu, Alfi tersenyum.
“Itu memang kritik halus. Kami menangkap fenomena yang sedang booming di Jawa Timur. Kadang orang pasang sound keras tanpa memikirkan kenyamanan sekitar,” ungkapnya.
Dalam lakon, sound horeg digambarkan sebagai cerminan kegelisahan batin sang nenek.
Selain itu, simbol kunci menjadi elemen penting sepanjang pertunjukan.
“Kunci itu perlambang. Nenek selalu menggenggamnya karena ia merasa harta-hartanya terancam diambil anak-anaknya,” terangnya.
Makna tersebut berubah ketika di akhir cerita sang nenek mengajak cucunya, Bambang, untuk salat.
“Itu penanda pesan utama: bahwa ketenangan hidup tidak terletak pada harta, tetapi pada jiwa yang tenang,” tegasnya.
Pertunjukan “Utiku Sayang” turut disaksikan Wakil Bupati Jombang, Salmanudin Yazid, bersama para pejabat dan pelaku seni daerah.
“Atas nama Pemkab Jombang, saya mengapresiasi karya ini,” ujarnya.
Ia menilai Komunitas Tombo Ati berhasil menunjukkan konsistensi dalam melahirkan karya teater berkualitas dan menjadi wadah regenerasi seniman muda. Pemerintah, katanya, terus mendukung upaya pelestarian teater yang tetap relevan di tengah era digital.
Pementasan ditutup dengan tepuk tangan panjang sebagai bentuk penghargaan atas sajian yang segar, kritis, dan dekat dengan realitas sosial masyarakat.
“Selamat kepada seluruh tim. Semoga karya ini memberi inspirasi bagi kita semua,” tutupnya.***
Reporter : Agung Pamungkas
Editor : Hadiyin





