KEDIRI, LINGKARWILIS.COM – Pagelaran wayang kulit bertajuk “Semar Mbangun Kayangan” memukau ribuan warga yang memadati Lapangan Desa Bulu Pasar, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri, Selasa (9/12/2025) malam.
Pertunjukan budaya ini bukan hanya menyuguhkan hiburan, namun juga menjadi ruang edukasi lewat pesan moral, nilai kepemimpinan, serta refleksi kebangsaan di tengah dinamika pembangunan.
Acara tersebut dihadiri Sekjen DPP Partai Golkar Sarmuji, anggota Komisi B DPRD Jawa Timur M Hadi Setiawan, anggota DPRD Kabupaten Kediri, perwakilan Disbudpar Jatim, jajaran pemerintah daerah, kepala desa se-Kabupaten Kediri, hingga para tokoh masyarakat dan seniman. Kehadiran berbagai unsur ini menegaskan kuatnya kolaborasi pemerintah pusat, daerah, dan masyarakat dalam melestarikan budaya adiluhung.
Baca juga : Disdagin Kabupaten Kediri Tegaskan Tak Ada TPPS dan Larangan Jual-Beli Lapak di Pasar Buah
Dalam sambutannya, Sarmuji menegaskan bahwa wayang kulit merupakan sarana efektif untuk membangun karakter. Menurutnya, lakon “Semar Mbangun Kayangan” mengajarkan bahwa pembangunan sejati berakar dari perilaku dan moralitas.
“Pembangunan tidak hanya soal fisik. Gedung dan infrastruktur memang penting, tetapi yang utama adalah membangun kahyangan batin. Bila moral pemimpin baik, maka pembangunan akan berjalan benar dan berpihak kepada rakyat,” ujarnya.
Ia juga menyoroti nilai kesetiaan, kejujuran, dan keberanian dalam kisah wayang sebagai fondasi kepemimpinan yang harus terus dijaga.
“Wayang bukan hanya tontonan, tetapi tuntunan. Ketika nilai-nilai ini dipahami, bangsa akan menjadi kuat dan bermartabat,” tambahnya.
Baca juga : Wabup Kediri Ingatkan Kepala Desa Hindari Praktik Korupsi, Ini Infonya
Sementara itu, perwakilan Disbudpar Jawa Timur, Leslie Citra Pratiwi, menyampaikan bahwa pagelaran ini merupakan bagian dari komitmen Pemprov dan DPRD Jatim dalam melestarikan seni tradisi, terutama wayang kulit yang telah ditetapkan UNESCO sebagai warisan budaya tak benda dunia.
“Wayang menyampaikan kritik sosial dan pesan moral dengan cara simbolik namun mengena. Lakon Semar Mbangun Kahyangan menegaskan pentingnya kerja sama antara pemerintah dan masyarakat demi pembangunan yang adil dan berkelanjutan,” jelasnya.
Pertunjukan yang dipimpin dalang Ki Anom Dwi Joko itu berlangsung meriah. Antusiasme warga menciptakan suasana hangat dan penuh makna, sekaligus membuktikan bahwa wayang kulit tetap hidup dan relevan sebagai napas kebudayaan Jawa hingga kini.***
Reporter : Agus Sulistyo Budi
Editor : Hadiyin





