Saat ini, harga timun di tingkat petani mencapai Rp13.000 per kilogram, naik dari sebelumnya Rp10.000 per kilogram. Kenaikan tersebut telah berlangsung sekitar empat hari dan dipicu meningkatnya permintaan pasar.
Sebaliknya, harga cabai rawit mengalami penurunan tajam dari Rp80.000 menjadi Rp40.000 per kilogram. Meski permintaan di pasar masih tergolong tinggi, harga di tingkat petani justru melemah.
Petani sayuran asal Kecamatan Ringinrejo, Bowo, mengaku cukup terkejut dengan fluktuasi harga yang terjadi di tengah musim kemarau.
Baca juga :Β Mahasiswi S3 Asal Jepang Ikuti Prosesi Jamasan Situs Totok Kerot di Kediri
“Saya mengira saat musim kemarau panjang seperti sekarang harga sayur-sayuran akan naik semua. Namun ternyata harga cabai justru turun menjadi Rp40.000 per kilogram. Harga komoditas seperti timun dan cabai memang sangat cepat berubah, bahkan bisa naik turun dalam waktu singkat,” ujarnya.
Bowo mengelola lahan yang ditanami berbagai komoditas, seperti jagung, cabai, dan timun. Menurutnya, kondisi saat ini memberikan dampak yang berbeda terhadap hasil usahanya. Kenaikan harga timun memberikan keuntungan, tetapi penurunan harga cabai mengurangi pendapatan yang diharapkan.
Ia mengaku sebelumnya memperkirakan harga cabai akan terus meningkat selama musim kemarau karena permintaan tetap tinggi dan serangan hama relatif rendah.
Selain faktor harga, kondisi tanaman juga sangat memengaruhi hasil panen. Bowo menjelaskan bahwa serangan virus, terutama virus kuning pada tanaman cabai, dapat menurunkan kualitas hasil panen karena menyebabkan bercak hitam pada buah sehingga lebih cepat membusuk.
Baca juga :Β Lebaran Yatim Nasional di Kediri, Kemenag Luncurkan RA Perwanida 1 dengan Pendidikan Gratis
“Kalau tanaman cabai terserang virus kuning, kualitasnya turun karena buah menjadi bercak hitam dan mudah busuk. Sementara tanaman timun saya kondisinya sehat tanpa serangan virus, sehingga hasil panennya bagus dan kebetulan harganya juga sedang naik,” jelasnya.
Meski demikian, para petani berharap harga komoditas hortikultura dapat kembali stabil agar pendapatan mereka tidak terlalu dipengaruhi fluktuasi pasar yang terjadi dalam waktu singkat.***
Reporter : Bakti Wijayanto
Editor : Hadiyin





