KEDIRI, LINGKARWILIS.COM — Di sepanjang tanggul Sungai Kedak, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri, sepasang lanjut usia asal Kelurahan Ngampel, RT 7 RW 1, Malik dan Sutiani, menjalani kehidupan sederhana dengan mengandalkan hasil kebun pisang kluthuk yang mereka kelola sejak puluhan tahun lalu.
Lebih dari tiga dekade, pasangan lansia ini merawat lahan seluas sekitar setengah bau yang kini menjadi tumpuan utama ekonomi keluarga. Ribuan batang pisang kluthuk tumbuh di kawasan bantaran sungai tersebut dan terus dirawat secara turun-temurun.
Dari kebun itu, hasil utama yang dipanen bukan hanya buah, melainkan daun pisang kluthuk yang memiliki nilai jual cukup tinggi. Setiap hari, daun-daun tersebut dipetik dan dijual ke pasar tradisional di sekitar tempat tinggal mereka.
“Hasilnya tidak menentu, kadang bisa laku sampai tiga ratus lembar, kadang sekitar seratus lima puluh. Semua tergantung kondisi tanaman dan cuaca,” ujar Malik, Senin (12/1/2026).
Baca juga : Transaksi Produksi Ikan Air Tawar Kabupaten Kediri 2025 Tembus Rp 482,6 Miliar
Menurut Malik, kebun pisang tersebut telah digarap sejak anak-anaknya masih kecil. Kini, meski usia telah menginjak sekitar 70 tahun, ia bersama sang istri masih setia mengelola kebun secara mandiri.
“Sudah lebih dari 30 tahun saya mengurus kebun ini. Anak-anak sekarang sudah besar semua,” tuturnya.
Di tengah keterbatasan fisik karena usia, Malik dan Sutiani tetap menjalani aktivitas sehari-hari, mulai dari membersihkan lahan, merawat tanaman, hingga memanen daun pisang di sepanjang bantaran Sungai Kedak.
Meski lahan tersebut berada di lokasi yang strategis dan sempat diminati sejumlah pihak, keduanya memilih untuk tidak melepasnya.
Baca juga : Musim Penghujan, DKPP Kabupaten Kediri Imbau Peternak Perketat Kebersihan Kandang
“Pernah ada yang ingin membeli, tapi kebun ini adalah sumber penghidupan kami,” tegas Malik.***
Reporter: Agus Sulistyo Budi
Editor: Hadiyin






