Kediri, LINGKARWILIS.COM – Tim Kesehatan Hewan (Keswan) Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Kabupaten Kediri terus mengintensifkan pengobatan, pemantauan, serta pengawasan terhadap sapi yang terpapar penyakit mulut dan kuku (PMK). Langkah ini dilakukan untuk mempercepat proses penyembuhan sekaligus menekan penyebaran PMK agar Kabupaten Kediri kembali ke status nol kasus.
DKPP Kabupaten Kediri mencatat hingga pekan ini terdapat 91 ekor sapi yang terkonfirmasi terpapar PMK. Dari jumlah tersebut, 19 ekor sapi dinyatakan sembuh, 70 ekor masih dalam kondisi sakit dan proses pemulihan, serta dua ekor sapi dilaporkan mati.
Berdasarkan sebaran wilayah, Kecamatan Tarokan menjadi daerah dengan kasus terbanyak, yakni 60 kasus, dengan rincian 42 ekor sapi masih sakit, satu ekor mati, dan 17 ekor telah sembuh. Sementara itu, Kecamatan Grogol tercatat dua kasus, Kecamatan Purwoasri dan Ngancar masing-masing delapan ekor, Kecamatan Plemahan 11 kasus, serta Kecamatan Semen satu kasus.
Baca juga : Uji Coba Larangan Parkir di Jalan Stasiun Kediri Diperpanjang, Ini Rincian Waktunya
Pelaksana Tugas Kepala DKPP Kabupaten Kediri, drh. Tutik Purwaningsih, melalui Kepala Bidang Kesehatan Hewan DKPP Kabupaten Kediri, drh. Yuni Ashmawati, menjelaskan bahwa kegiatan pengobatan dan vaksinasi difokuskan di lokasi-lokasi dengan temuan kasus PMK.
“Penanganan difokuskan di wilayah Tarokan karena jumlah kasusnya paling banyak, sekaligus menjadi wilayah dengan angka kesembuhan tertinggi sejauh ini,” jelas Yuni.
Ia menambahkan, langkah cepat tersebut dilakukan untuk mencegah penularan PMK ke wilayah lain yang berbatasan langsung dengan daerah terdampak. Selain penanganan medis, DKPP juga terus melakukan edukasi secara masif kepada peternak dan pedagang sapi terkait upaya pencegahan PMK.
“Populasi sapi di Kabupaten Kediri cukup tinggi, sehingga pencegahan menjadi kunci utama. Kami mengimbau peternak agar benar-benar menjaga kesehatan ternaknya,” ujarnya.
Baca juga : Bupati Kediri, Mas Dhito, Instruksikan Kantor Satpol PP Segera Keluar dari Area Museum
Yuni menekankan, sapi yang menunjukkan gejala sakit harus segera dipisahkan dari ternak lain dan dilaporkan kepada petugas untuk dilakukan pemeriksaan. Hal ini penting mengingat virus PMK memiliki tingkat penularan yang sangat cepat.
Selain itu, petugas Keswan juga menyiapkan disinfektan untuk penyemprotan sapi yang akan dibawa dan diperjualbelikan di pasar hewan sebagai langkah antisipasi penyebaran virus. ***
Reporter : Bakti Wijayanto
Editor : Hadiyin





