Kediri, LINGKARWILIS.COM – Pelaksanaan Megengan Kubro dilakukan serentak di sejumlah padukuhan di Desa Bulu Kecamatan Semen dengan pusat kegiatan di Makam Umum Bulusan, Karangdoro, dan Ngawinan, Minggu (15/2/2026).
Di Bulusan, tradisi ini telah memasuki tahun ketiga, Karangdoro tahun kelima, dan Ngawinan tahun kedua. Partisipasi warga pun tercatat terus meningkat dari tahun ke tahun.
Kepala Desa Bulu, Sya’roni, AMD.Kep, menyampaikan apresiasi atas kelancaran kegiatan tersebut. Ia menilai Megengan Kubro menjadi momentum penting untuk mempererat ukhuwah Islamiyah sekaligus mengingatkan masyarakat akan pentingnya mendoakan para leluhur.
Baca juga : Pemkab Kediri Perkuat Transparansi Layanan Informasi Desa Gadungan
“Alhamdulillah, kegiatan ini dapat berjalan dengan dukungan penuh pemerintah desa, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan seluruh warga. Semoga menjadi tradisi yang membawa keberkahan dan memperkuat persaudaraan,” ujarnya.
Menurutnya, Megengan Kubro juga memiliki nilai pembelajaran bagi generasi muda. Melalui ziarah dan tahlil bersama, anak-anak dikenalkan pada sejarah keluarga serta pentingnya menghormati pendahulu. Kegiatan ini sekaligus menjadi bagian dari amal jariyah yang manfaatnya diyakini kembali kepada masyarakat.
” Ritual keagamaan yang digelar menjelang Ramadan ini tak hanya sarat makna spiritual, tetapi juga menjadi wujud nyata kekompakan dan gotong royong masyarakat,” tambahnya.
Sementara itu Takmir Masjid Al Hikmah Bulusan, Muhammad Habib, menjelaskan seluruh rangkaian acara disiapkan melalui musyawarah bersama tokoh agama dan warga. Persiapan telah dilakukan satu hingga dua pekan sebelumnya dengan mengandalkan swadaya masyarakat.
“Mulai konsumsi, perlengkapan hingga penataan lokasi semuanya hasil gotong royong. Ini bukti tradisi ini tumbuh dari semangat kebersamaan warga,” katanya.
Baca juga : Gagal Amankan Kemenangan atas PSIM, Pelatih Persik Kediri Ungkap Kekecewaan
Usai doa bersama dan tahlil, warga menikmati makan bersama dengan hidangan nasi pecel tumpang. Suasana akrab tampak saat masyarakat duduk berdampingan, berbagi makanan sebagai simbol rasa syukur sekaligus mempererat hubungan sosial.
Tokoh masyarakat Dusun Karangdoro, Alex, menyebut tingkat kehadiran warga meningkat sekitar 10 persen dibanding tahun sebelumnya. Dari ribuan undangan yang dibagikan, ratusan warga hadir mengikuti doa dan tahlil bersama.
Ia menambahkan, selain bernilai religius, Megengan Kubro juga memiliki pesan sosial agar masyarakat mengenal makam keluarga serta menyadari bahwa setiap manusia akan kembali kepada Sang Pencipta.
“Kami optimistis Megengan Kubro akan semakin berkembang, membawa keberkahan, serta memperkuat nilai religius dan solidaritas sosial di tengah kehidupan”.***
Reporter: Agus Sulistyo Budi
Editor: Hadiyin





