Tulungagung, LINGKARWILIS.COM – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Tulungagung memastikan akan melakukan pengawasan rutin terhadap penyaluran Makanan Bergizi Gratis (MBG) dari setiap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) selama Ramadan 2026. Langkah ini dilakukan guna menjamin keamanan menu “Makanan Kemasan Sehat MBG” atau makanan kering yang dibagikan kepada penerima manfaat.
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Dinkes Tulungagung, Mamik Hidayah, menyampaikan bahwa Badan Gizi Nasional (BGN) telah menetapkan panduan menu MBG untuk Ramadan 2026. Sesuai arahan tersebut, distribusi selama bulan puasa difokuskan pada makanan kemasan kering.
Adapun menu yang direkomendasikan BGN meliputi telur asin, abon, dendeng sapi kering, buah, kurma, serta sejumlah pilihan makanan lokal lainnya. Meski demikian, SPPG tetap diberi keleluasaan menentukan menu tambahan selama memenuhi standar nilai gizi yang ditetapkan.
Baca juga : Pemkab Kediri Imbau Sahur Keliling Tanpa Sound Horeg
“BGN memberikan opsi kepada SPPG untuk menyesuaikan menu, termasuk makanan lokal, dengan catatan kandungan gizinya tetap terpenuhi,” ujar Mamik, Senin (23/2/2026).
Menindaklanjuti kebijakan tersebut, Dinkes Tulungagung akan melakukan inspeksi berkala terhadap menu yang disiapkan SPPG. Pengawasan mencakup keamanan kemasan yang harus memenuhi standar food grade, kepastian izin edar, serta masa kedaluwarsa produk.
Selain aspek keamanan, kandungan gizi juga menjadi perhatian utama. Pihaknya menegaskan, meski berbentuk makanan kemasan, kualitas nutrisi tetap harus sesuai standar program MBG.
“Menu yang dibagikan wajib aman dan bergizi. Pemeriksaan akan kami lakukan secara berkala,” tegasnya.
Baca juga : Harga Cabai Rawit di Kota Kediri Kian Melonjak Selama Ramadan, Sentuh Rp115 Ribu per Kilogram
Dinkes juga tidak merekomendasikan penyaluran MBG dalam bentuk takjil. Penyajian berupa aneka jajanan pasar dinilai tidak sesuai dengan standar yang ditetapkan BGN, karena tidak tercantum dalam panduan menu resmi.
Menurut Mamik, distribusi makanan kemasan kering selama Ramadan secara teknis dinilai lebih minim risiko keracunan dibandingkan makanan basah. Namun demikian, faktor keamanan kemasan, legalitas produk, dan kualitas gizi tetap menjadi syarat mutlak.
“Kami menilai makanan kemasan kering relatif lebih aman dari potensi keracunan, sepanjang memiliki izin edar dan masa berlaku yang masih layak,” pungkasnya.***
Reporter: Mochammad Sholeh Sirri
Editor: Hadiyin





