Jombang, LINGKARWILIS.COM – Menjelang pukul 17.00 WIB, halaman Mushola Al Fath mulai dipadati jamaah. Meski gerimis kerap turun membasahi kawasan Kota Santri, antusiasme warga Jagalan, Kepatihan, Jombang, tak surut. Anak-anak tampak berlarian riang, sementara para orang tua melangkah tenang menyambut waktu berbuka.
Di mushola tersebut, Ramadan tidak sekadar identik dengan menanti azan Magrib atau berburu kudapan pembatal puasa. Warga justru memaknai “perburuan” dengan cara berbeda, yakni mencari tambahan ilmu sekaligus mempererat kebersamaan.
Rangkaian kegiatan diawali dengan pembacaan tahlil. Lantunan zikir menggema pelan, menghadirkan suasana khusyuk yang sarat makna spiritual. Doa-doa dipanjatkan untuk keluarga dan leluhur yang telah wafat, menjadikan Ramadan sebagai momentum memperkuat ikatan batin antargenerasi.
Baca juga : Sebanyak 200 Becak Listrik Disalurkan kepada Pengemudi Becak di Kabupaten Kediri
Selanjutnya, agenda “Ngaji Bareng Ramadan 1447 H” menghadirkan Ustadz Amin Febrianto dari Lajnah Fiqhiyyah Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas. Dalam kajiannya, ia menyampaikan materi fikih praktis dengan pendekatan kontekstual dan gaya penyampaian yang ringan.
Dalam salah satu penjelasannya, Ustadz Amin mengajak jamaah menelusuri sejarah ibadah puasa yang telah ada sejak masa Nabi Adam. Penyampaian materi diselingi humor khas, sehingga suasana tetap cair tanpa mengurangi esensi kajian.
Bagi kalangan remaja, kegiatan tersebut menjadi bentuk “berburu takjil” yang lebih bermakna. Mereka tidak hanya menunggu waktu berbuka, tetapi juga mengisi diri dengan pemahaman agama.
Lima menit sebelum azan Magrib, kajian ditutup. Menu berbuka pun sederhana, tiga butir kurma dan segelas air mineral. Setelah doa dan salat Magrib berjamaah, suasana kebersamaan semakin terasa di sisi utara mushola.
Baca juga : Ubah Stigma Negatif, Orado Jombang Sasar Pelajar Jadi Atlet Domino Profesional
Hidangan buka puasa tersaji tanpa sekat. Anak-anak, pemuda, hingga orang tua duduk bersila di lantai yang sama, menikmati makanan sembari bercengkerama. Kebersamaan itu menjadi gambaran nyata nilai al-mutahabbuna fillah—persaudaraan yang dilandasi cinta karena Allah.
Hujan yang kembali turun tidak menyurutkan langkah jamaah. Payung yang terbuka dan sandal yang basah justru menjadi simbol bahwa di Mushola Al Fath, Ramadan dimaknai sebagai waktu merawat hati sekaligus menguatkan tali paseduluran.***
Reporter : Agung Pamungkas
Editor : Hadiyin





