Menelusuri Masjid Tertua di Kota Batu, Berdiri Sejak 1831 dan Menjadi Saksi Sejarah Perjuangan

Menelusuri Masjid Tertua di Kota Batu, Berdiri Sejak 1831 dan Menjadi Saksi Sejarah Perjuangan
Menelusuri Masjid Tertua di Kota Batu, Berdiri Sejak 1831 dan Menjadi Saksi Sejarah Perjuangan (Arief)

BATU, LINGKARWILIS.COM – Di tengah suasana Ramadan yang penuh berkah, Masjid Al Mukhlisin di Dusun Macari, Jalan Lahor, Kota Batu menjadi salah satu lokasi yang menyimpan nilai sejarah sekaligus spiritual.

Masjid ini diyakini sebagai masjid tertua di Kota Batu yang telah berdiri sejak tahun 1831 Masehi.

bayar PBB Kota Kediri bayar PBB Kota Kediri

Keberadaan masjid tersebut bukan sekadar sebagai tempat ibadah. Bangunan ini juga menjadi saksi perjalanan dakwah Islam sekaligus jejak perjuangan kemerdekaan di kawasan Malang Raya.

Berdasarkan catatan sejarah, masjid tersebut didirikan oleh KH Zakaria, seorang tokoh penyebar Islam yang juga dikenal sebagai murid dari Pangeran Diponegoro.

Pada masa itu, Pangeran Diponegoro disebut mengutus para muridnya untuk menyebarkan dakwah Islam ke berbagai wilayah di Pulau Jawa. Dusun Macari kemudian dipilih sebagai lokasi pengembangan dakwah. Di tempat inilah KH Zakaria mendirikan masjid sekaligus pondok pesantren sebagai pusat pendidikan agama bagi masyarakat setempat.

Baca juga : Jelang Lebaran, Lalu Lintas Kota Kediri Naik 30 Persen, Dishub Optimalkan ATCS Pantau Titik Rawan Macet

Ketua Takmir Masjid Al Mukhlisin, Choirul Anam, menjelaskan bahwa bangunan masjid yang berdiri saat ini telah beberapa kali mengalami renovasi. Renovasi pertama dilakukan pada 1950, kemudian dilanjutkan pada 1975, 1996, dan terakhir pada 2014.

“Renovasi total dilakukan pada tahun 1996. Namun beberapa bagian asli tetap dipertahankan, seperti cekungan mihrab lama dan bagian pilar yang menjadi ciri khas masjid kuno,” ujarnya, Selasa (10/3/2026).

Menariknya, saat proses renovasi pada 1996, warga menemukan keunikan pada salah satu tiang kayu jati penyangga bangunan. Di bagian inti kayu tersebut terdapat seikat batang lidi yang tertanam di dalamnya.

Penemuan itu sempat menimbulkan rasa penasaran warga karena tidak diketahui secara pasti makna dan tujuan penanaman batang lidi tersebut. Meski demikian, masyarakat meyakini benda itu memiliki filosofi serta nilai spiritual tersendiri dari para pendiri masjid.

“Waktu itu kayu jati lama diganti dengan pilar cor, tetapi batang lidi tersebut kami tanam kembali seperti semula,” tambah Choirul.

Baca juga : Komoditas Telur, Cabai, Bawang Merah, serta Daging Ayam Tekan Inflasi Kota Kediri pada Februari hingga 0,87 Persen (MoM)

Selain bangunan masjid, jejak sejarah lain yang masih dapat ditemukan di kawasan ini adalah sebuah roda tank peninggalan masa penjajahan Belanda. Benda tersebut diyakini menjadi bukti bahwa wilayah Dusun Macari pernah menjadi basis pergerakan para pejuang.

Tak jauh dari masjid juga terdapat kolam kuno yang dikenal masyarakat sebagai Blumbang Macari. Dahulu, kolam ini dimanfaatkan sebagai sumber air sekaligus tempat bersuci bagi para santri dan warga sekitar.

Kini, di bulan Ramadan, Masjid Al Mukhlisin tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga menjadi tujuan wisata religi bagi masyarakat yang ingin menelusuri sejarah Islam di Kota Batu.

Dengan usia yang hampir dua abad, masjid ini menjadi salah satu peninggalan berharga yang terus dijaga keberadaannya oleh masyarakat setempat. Ia menjadi saksi bisu perjalanan dakwah, sejarah, dan kebersamaan umat dari masa ke masa.***

Reporter : Arief Juli Prabowo
Editor : Hadiyin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *