Kediri, LINGKARWILIS.COMΒ β Kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) di wilayah Kediri Raya hingga Maret 2026 menunjukkan tren positif di tengah tantangan ekonomi global. Hal ini tercermin dari capaian pendapatan dan belanja negara yang tetap tumbuh serta berperan dalam menopang stabilitas ekonomi daerah.
Secara tahunan (YoY), APBN di wilayah Kediri Raya masih menunjukkan perkembangan, baik dari sisi pendapatan maupun belanja.
Dari sisi pendapatan, total penerimaan negara hingga Maret 2026 tercatat sebesar Rp5.177,27 miliar. Angka ini terdiri dari penerimaan perpajakan dan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP).
“Untuk perpajakan sebesar Rp5.048,36 miliar sementara PNBP sebesar Rp128,87 miliar,” ujar Kepala KPPN Kediri Moch. Izma Nur Choironi, Kamis (30/4).
Namun demikian, terdapat dinamika yang berbeda pada masing-masing komponen. Penerimaan perpajakan mengalami kontraksi sebesar 16,31 persen secara YoY, sementara PNBP justru menunjukkan kinerja positif dengan pertumbuhan sebesar 14,76 persen.
Kondisi ini mencerminkan adanya tekanan pada sektor perpajakan, namun di sisi lain menunjukkan potensi peningkatan kontribusi dari sumber penerimaan non-pajak.
Sementara itu, dari sisi belanja negara, realisasi hingga Maret 2026 mencapai Rp2.192,29 miliar atau sekitar 30 persen dari total pagu anggaran.
Melihat dari sisi wilayah, Kabupaten Kediri menjadi daerah dengan serapan anggaran tertinggi sebesar Rp231,923 miliar. Disusul Kabupaten Nganjuk sebesar Rp195,105 miliar, Kabupaten Trenggalek sebesar Rp170,526 miliar, dan Kota Kediri sebesar Rp147,857 miliar.
Lebih lanjut, di sektor pembiayaan, penyaluran kredit program juga menunjukkan tren positif dari sisi nilai, meskipun jumlah debitur mengalami penurunan.
Penyaluran kredit program mencapai Rp1.407,26 miliar dengan total 32.091 debitur. Secara nilai tumbuh 8,62 persen, namun jumlah debitur mengalami kontraksi sebesar 7,99 persen.
Untuk Kredit Usaha Rakyat (KUR), total penyaluran mencapai Rp1.368,42 miliar dengan 24.148 debitur. Nilai penyaluran tumbuh 6,68 persen, sementara jumlah debitur turun 9,58 persen.
Sementara itu, pembiayaan Ultra Mikro (UMi) menunjukkan pertumbuhan signifikan. Nilai penyaluran mencapai Rp38,84 miliar atau tumbuh 203,16 persen, meskipun jumlah debitur mengalami fluktuasi.
Secara keseluruhan, kinerja APBN di Kediri Raya hingga Maret 2026 dinilai masih solid dan berperan penting dalam menjaga stabilitas ekonomi daerah. Hal ini menjadi penting mengingat kondisi global yang masih diliputi ketidakpastian, termasuk dampak konflik geopolitik internasional.
