Jelang Munas dan Konbes NU Para Masyayikh Serukan Penguatan Peran Pesantren dan Penjagaan Marwah Organisasi

Jelang Munas dan Konbes NU Para Masyayikh Serukan Penguatan Peran Pesantren dan Penjagaan Marwah Organisasi
Masyayikh NU Keluarkan Seruan Jelang Munas Alim Ulama dan Konbes 2026 (Ist)

Kediri, LINGKARWILIS.COM – Sejumlah masyayikh, alim ulama, dan pengasuh pondok pesantren Nahdlatul Ulama menyampaikan seruan menjelang pelaksanaan Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama yang digelar di Pondok Pesantren Al-Falah Ploso.

Seruan tersebut disampaikan dalam forum Ramah Tamah Masyayikh Nahdlatul Ulama pada Sabtu (20/6/2026), bertepatan dengan 4 Muharam 1448 Hijriah, setelah para ulama mencermati berbagai dinamika yang berkembang menjelang Munas dan Konbes NU 2026.

bayar PBB Kota Kediri bayar PBB Kota Kediri

Dalam pernyataan bersama, para masyayikh menekankan pentingnya menjaga khittah, marwah, persatuan, dan kesinambungan peran Nahdlatul Ulama sebagai organisasi keagamaan dan sosial kemasyarakatan yang lahir dari tradisi pesantren.

Para masyayikh berharap Munas dan Konbes NU dilaksanakan secara bijaksana, penuh kehati-hatian, serta bertanggung jawab. Mereka meminta forum tersebut tidak membahas maupun menetapkan kebijakan yang dinilai berpotensi mengurangi hubungan historis, kultural, dan spiritual antara NU dengan kalangan pesantren.

Baca juga : KAI Edukasi 566 Siswa dan Guru di Madiun-Kediri tentang Keselamatan Jalur Kereta Api

Salah satu poin yang disorot adalah usulan perubahan syarat dan mekanisme pemilihan anggota Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA). Menurut para masyayikh, AHWA harus tetap dipertahankan sebagai forum keulamaan yang bertumpu pada kedalaman ilmu, keteladanan akhlak, luasnya pengabdian, dan pengakuan keulamaan di lingkungan NU.

Karena itu, mereka meminta usulan penambahan syarat calon anggota AHWA yang mengharuskan berasal dari pengurus syuriyah dan berbasis representasi kewilayahan dibatalkan. Selain itu, usulan perubahan terkait larangan rangkap jabatan politik juga diminta untuk tidak dilanjutkan.

Dalam poin kedua, para masyayikh menegaskan bahwa pesantren merupakan pusat transmisi ilmu, akhlak, tradisi, dan kepemimpinan keulamaan yang menjadi fondasi utama Nahdlatul Ulama.

Atas dasar itu, mereka berharap Muktamar Nahdlatul Ulama 2026 dapat diselenggarakan di lingkungan pondok pesantren sebagai bentuk penghormatan terhadap sejarah dan mata rantai keilmuan yang selama ini menjadi sumber kekuatan NU dalam mengabdi kepada agama, bangsa, negara, dan kemanusiaan.

Baca juga : Sambut HUT Bhayangkara ke-80, Satlantas Polres Kediri Gelar Bakti Religi di Sejumlah Tempat Ibadah

Para masyayikh juga menyerukan kepada seluruh peserta, penyelenggara, pimpinan, dan unsur NU yang terlibat dalam Munas dan Konbes agar menjaga ketertiban, akhlak, serta adab bermusyawarah dengan mengedepankan persatuan dan kesatuan organisasi.

Mereka meyakini penghormatan kepada ulama, penguatan peran pesantren, dan terjaganya soliditas jam’iyah merupakan modal utama bagi NU untuk terus menjalankan khidmah bagi masyarakat luas.

Seruan tersebut ditandatangani sejumlah tokoh dan ulama NU, di antaranya KH. Nurul Huda Jazuli, KH. Anwar Manshur, KH. A. Kafabihi Mahrus, KH. Ma’ruf Amin, KH. Said Aqil Siroj, KH. Abdullah Ubab Maimoen dan KH. Asep Saifuddin Chalim.***
.

Editor : Hadiyin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *