Kediri, LINGKARWILIS.COM – Rangkaian Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama (NU) 2026 yang digelar di Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Kabupaten Kediri, akan ditutup secara resmi di Kabupaten Bangkalan. Penutupan agenda besar organisasi tersebut juga direncanakan dihadiri langsung oleh Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto.
Sekretaris Steering Committee (SC) Munas-Konbes NU 2026, Prof. Mohammad Nuh, menyampaikan bahwa pemilihan Bangkalan sebagai lokasi penutupan memiliki makna historis dan spiritual yang kuat bagi warga Nahdliyin.
Ia menegaskan, Bangkalan memiliki keterkaitan erat dengan dua tokoh penting dalam sejarah NU, yakni Syeikhona Kholil Bangkalan dan Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari, yang menjadi fondasi perjalanan organisasi hingga saat ini.
“NU tidak bisa dilepaskan dari Syeikhona Kholil Bangkalan dan Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari. Momentum ini kami arahkan sebagai penguatan ingatan sejarah agar generasi muda tidak melupakan akar perjuangan NU,” ujar Prof. Mohammad Nuh dalam konferensi pers di Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Senin (22/6/2026).
Ia menjelaskan, rangkaian penutupan di Bangkalan akan diawali dengan ziarah ke makam Syeikhona Kholil, dilanjutkan dengan istigasah bersama, sebelum kemudian ditutup dengan acara puncak yang dijadwalkan berlangsung pukul 14.00 hingga 16.00 WIB.
Menurutnya, skema tersebut tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga menjadi bagian dari penguatan nilai-nilai spiritual dan tradisi keulamaan yang melekat dalam tubuh NU.
Lebih lanjut, Prof. Nuh menambahkan bahwa salah satu keputusan penting dalam Munas dan Konbes NU 2026 adalah penetapan lokasi dan waktu pelaksanaan Muktamar NU ke-35 yang akan digelar pada Agustus 2026 mendatang. Keputusan tersebut diharapkan menjadi pedoman bagi seluruh struktur organisasi dalam mempersiapkan agenda tertinggi NU tersebut.
Baca juga : Renovasi Gedung Pemkab Kediri Rampung, Menunggu Serah Terima dari Kementerian PUPR
Secara terpisah, pemilihan Bangkalan sebagai titik penutupan juga dinilai strategis karena memiliki nilai historis sebagai salah satu pusat perkembangan awal pendidikan Islam di Madura, sekaligus memperkuat jejaring tradisi pesantren yang menjadi basis utama Nahdlatul Ulama.***
Editor : Hadiyin





