Jombang, LINGKARWILIS.COM – Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, tidak hanya menjadi momentum musyawarah tertinggi organisasi. Berbagai bentuk khidmat juga disiapkan untuk menyambut ribuan peserta yang datang dari berbagai daerah, salah satunya layanan pijat gratis.
Sedikitnya 100 relawan pemijat telah menyatakan kesiapannya untuk memberikan pelayanan secara cuma-cuma selama pelaksanaan Muktamar NU ke-35. Para relawan tersebut berasal dari berbagai daerah, termasuk alumni Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas yang memiliki keahlian memijat.
Muhammad Romli, salah satu anggota Jam’iyyah Ruqyah Aswaja Jombang, mengatakan layanan tersebut disiapkan sebagai bentuk pengabdian sekaligus membantu peserta Muktamar yang mengalami kelelahan setelah menempuh perjalanan jauh maupun mengikuti berbagai agenda persidangan dan rapat.
“Peserta Muktamar kan banyak yang datang dari jauh. Setelah rapat atau perjalanan tentu merasa lelah. Karena itu kami menyediakan layanan pijat capek-capek secara gratis khusus untuk peserta Muktamar NU ke-35 di Tambakberas,” ujar Romli saat ditemui di kediamannya di Desa Tambakrejo, Kecamatan/Kabupaten Jombang, Jumat (7/8/2026).
Baca juga : Bazar Muktamar NU Jombang Dibuka, 1.300 UMKM Bakal Meriahkan Empat Titik Tambakberas
Menurut Romli, jumlah relawan yang terdata saat ini masih memungkinkan bertambah. Sejumlah alumni Bahrul Ulum dan relawan dari luar daerah disebut tertarik ikut memberikan tenaga mereka sebagai bentuk khidmat kepada NU.
“Sementara yang sudah terdata sekitar 100 orang. Kemungkinan masih bertambah karena banyak alumni Bahrul Ulum maupun relawan dari berbagai daerah yang ingin menyumbangkan tenaga dengan memberikan layanan pijat,” jelasnya.
Para relawan tersebut berasal dari sejumlah wilayah, mulai Jawa, Madura hingga luar Pulau Jawa. Nantinya, seluruh pemijat akan didata dan pembagian tugasnya diatur oleh panitia agar pelayanan dapat berjalan tertib.
Layanan pijat gratis tersebut akan dipusatkan di tiga posko, yakni di MAN 3 Jombang, MTsN 3 Jombang, serta Universitas KH A. Wahab Hasbullah.
Untuk menjaga kenyamanan peserta, relawan laki-laki akan melayani peserta laki-laki. Sementara pemijat perempuan disiapkan untuk memberikan layanan kepada peserta perempuan, termasuk para nyai atau istri kiai yang menghadiri Muktamar.
Baca juga : Jaga Stabilitas Harga, Pemkab Kediri Gelar Gerakan Pangan Murah di Pare
Jenis layanan yang disediakan cukup beragam, mulai pijat kepala, badan, kaki hingga refleksi. Jika dalam kondisi normal layanan pijat bisa berlangsung sekitar satu jam, selama Muktamar durasinya akan dibatasi sekitar 15 menit.
Pembatasan waktu tersebut dilakukan agar layanan dapat menjangkau lebih banyak peserta mengingat jumlah muktamirin yang mencapai ribuan orang.
“Kalau praktik biasa satu jam, tetapi karena peserta Muktamar jumlahnya lebih dari 3.000 orang, maka sementara sekitar 15 menit supaya semua bisa merasakan layanan ini,” terang Romli.
Meski diberikan secara gratis, para relawan tidak diperbolehkan meminta bayaran kepada peserta. Menurut Romli, semangat utama yang dibawa para pemijat adalah berkhidmat dan mencari keberkahan dari para ulama yang hadir dalam Muktamar.
“Kami menyambut saudara-saudara NU dari seluruh Indonesia bahkan dunia. Kesempatan ini untuk mencari berkah para kiai. Tidak mengharapkan imbalan apa pun,” tuturnya.
Romli menjelaskan, apabila ada peserta yang secara sukarela memberikan uang setelah menerima layanan sebagai bentuk apresiasi, pemberian tersebut boleh diterima. Namun, relawan tidak diperkenankan meminta ataupun menjadikan pemberian sebagai syarat pelayanan.
“Kalau ada yang memberi setelah dipijat, itu rezeki yang tidak diduga dan boleh diterima dengan ikhlas. Tetapi tidak boleh meminta. Yang utama peserta harus merasa nyaman dan segar setelah dipijat,” pungkasnya.***
Reporter: Taufiqur Rachman
Editor : Hadiyin





