Selimut Peninggalan Ibu Jadi Kenangan Terakhir Suryono Sebelum Hilang di KM Virgo Transport 8

Selimut Peninggalan Ibu Jadi Kenangan Terakhir Suryono Sebelum Hilang di KM Virgo Transport 8
Keluarga korban Kapal Virgo, Ari Supriyatin, adik ipar Suryono ketika menunjukkan foto kakaknya saat ditemui di rumahnya di Desa Kwaron, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, Selasa (22/9/2026) siang.

Jombang, LINGKARWILIS.COM – Sebuah selimut peninggalan mendiang ibunya menjadi benda yang terus teringat dalam benak keluarga Suryono (37), warga Desa Kwaron, Kecamatan Diwek, Jombang.

Bagi keluarga, selimut itu bukan sekadar barang untuk menghangatkan tubuh. Benda tersebut menjadi kenangan yang melekat setelah Suryono dinyatakan belum ditemukan dalam insiden tenggelamnya KM Virgo Transport 8 di perairan Laut Jawa/Masalembo, Minggu (13/9/2026).

Kisah tersebut disampaikan Siti Nur Azizah (33), adik Suryono, bersama suaminya Ari Supriyatin. Menurut Ari, ada hal yang tidak biasa dilakukan Suryono sebelum berangkat bekerja menuju Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

Sebagai seorang kernet truk pengangkut sayuran, Suryono sebenarnya sudah terbiasa melakukan perjalanan jauh. Namun, selama bertahun-tahun bekerja, ia hampir tidak pernah membawa selimut saat bepergian.

Berbeda pada keberangkatannya kali ini. Selimut kesayangan mendiang ibunya justru ikut dimasukkan ke dalam barang bawaan.

Baca juga : HUT ke-81 TNI, Kodim Kediri Gelar Bazar dan Pameran Produk UMKM

“Biasanya enggak pernah bawa kemul. Itu kemul kesayangan ibu yang sudah almarhum. Tapi waktu itu dibawa terus. Sebelum berangkat juga dicari-cari,” tutur Ari saat ditemui di rumahnya, Selasa (22/9/2026) siang.

Malam itu, Jumat (18/9/2026) sekitar pukul 23.00 WIB, Suryono berpamitan kepada keluarga untuk kembali bekerja. Tujuannya Banjarmasin, tempat ia biasa mengantarkan sayuran bersama seorang sopir truk.

“Jumat malam jam sebelas, pamit kalau mau berangkat ke Banjarmasin. Biasanya memang kerjanya pulang-pergi terus Banjarmasin, kernet, kirim sayur,” ungkap Ari.

Tak ada tanda-tanda khusus yang dirasakan keluarga saat Suryono meninggalkan rumah. Ia hanya menyiapkan pakaian untuk berganti selama perjalanan, kemudian berangkat seperti biasanya.

Tidak ada seorang pun yang menyangka bahwa perjalanan tersebut menjadi awal dari penantian panjang keluarga.

Baca juga : Bakar Sampah Ditinggal, Rumpun Bambu di Wates Kediri Dilalap Api

Kecemasan mulai muncul setelah keluarga memperoleh informasi mengenai kapal yang ditumpangi Suryono mengalami kecelakaan. Mereka kemudian berusaha mencari kepastian mengenai keberadaannya.

Keluarga bahkan mendatangi Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya. Dari penelusuran tersebut, nama Suryono tercatat sebagai salah satu orang yang berada di kapal.

Namun, kepastian mengenai keberadaannya belum diperoleh.

“Sudah hampir sembilan hari ini belum ada kabar sama sekali. Kita sudah ke Tanjung Perak cari informasi di sana, datanya ada. Tapi untuk informasi korban-korban itu belum,” kata Ari.

Harapan keluarga sedikit terbantu setelah mereka dapat berkomunikasi dengan Yahya, sopir truk yang berangkat bersama Suryono. Yahya diketahui selamat dari insiden tersebut dan kini masih berada di Banjarmasin.

Dari keterangan Yahya, Suryono sempat berada di ruang tidur ketika kondisi kapal mulai memburuk.

Suryono kemudian dibangunkan setelah kapal mulai miring. Saat itu, air disebut sudah masuk ke dalam kapal dan kondisi menjadi semakin kacau karena lampu kapal padam.

“Kata Yahya, Surono diketahui sempat tertidur di ruang tidur ketika kondisi kapal mulai memburuk. Surono kemudian dibangunkan ketika kapal mulai miring. Air disebut sudah masuk ke dalam kapal, sementara lampu kapal padam,” ujar Ari.

Situasi tersebut membuat para penumpang berusaha menyelamatkan diri masing-masing. Dalam kondisi gelap dan panik, Ari masih menyimpan pertanyaan mengenai kondisi Suryono setelah dibangunkan.

“Kalau sopirnya bilang sudah bangun. Tapi kalau orang masih bangun tidur kan mungkin belum terlalu 100 persen fokus, sehingga tidak tahu lagi keberadaan Suryoni,” terangnya.

Hingga kini keluarga masih menunggu informasi terbaru dari Yahya maupun tim Basarnas yang melakukan pencarian.

Di mata keluarga, Suryono merupakan sosok sederhana. Setelah pulang bekerja dari Kalimantan, sebagian besar waktunya justru dihabiskan di rumah.

Ia lebih sering beristirahat, tidur dan merokok. Tidak banyak aktivitas lain yang dilakukannya.

“Kalau habis pulang dari Kalimantan itu cuma tidur. Selama enggak pergi cuma tidur, terus ngerokok biasa. Enggak pernah main ke mana-mana,” tambah Ari bersama Siti Nur Azizah.

Dalam sekitar dua bulan terakhir, Suryono bekerja sebagai kernet truk pengangkut sayur. Namun, pekerjaan sebagai kernet sebenarnya sudah lama dilakoninya dengan beberapa kali berpindah kendaraan dan pekerjaan.

Kini, rumah yang biasanya menjadi tempat Suryono beristirahat sepulang bekerja justru dipenuhi penantian.

Keluarga masih berharap proses pencarian membawa kabar baik. Mereka berharap Suryono ditemukan dalam keadaan selamat dan dapat kembali berkumpul dengan keluarga.

Namun, jika kenyataan berkata berbeda, keluarga juga berharap keberadaan Suryono segera diketahui sehingga mereka dapat memberikan penghormatan terakhir secara layak.

“Kita tetap berharap yang terbaik. Mungkin menunggu keajaiban, kalaupun memang masih diberi umur panjang, ya segera ditemukan dalam kondisi selamat. Tapi kalau memang sudah takdirnya berkata lain, apa pun kondisinya tetap ditemukan. Supaya kita bisa merawat jenazahnya dengan baik,” pungkasnya.

Di tengah penantian tersebut, selimut peninggalan sang ibu menjadi salah satu kenangan yang paling kuat tentang perjalanan terakhir Suryono.

Benda sederhana yang selama bertahun-tahun hampir tidak pernah dibawa bekerja itu justru ikut dalam perjalanan terakhirnya. Hingga kini, keluarga masih menunggu kepastian tentang nasib Suryono dan berharap pencarian segera memberikan jawaban.

Sebelumnya, satu warga Jombang lainnya, Gondham Prakoso (32), warga Desa Bulurejo, Kecamatan Diwek, juga masih belum ditemukan setelah KM Virgo Transport 8 mengalami kecelakaan di perairan Laut Jawa, Minggu (13/9/2026).

Gondham diketahui merupakan salah satu anak buah kapal (ABK) yang bertugas sebagai Second Officer. Hingga kini proses pencarian terhadap korban masih menjadi perhatian keluarga.***

Reporter : Taufiq Rahman

Editor : Hadiyin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *