Ponorogo, LINGKARWILIS.COM – Peringatan Hari Batik Nasional (HBN) setiap 2 Oktober selalu menjadi momen untuk mengenang kejayaan batik di berbagai daerah, termasuk Ponorogo. Kabupaten yang dijuluki Bumi Reyog ini pernah mengalami masa keemasan industri batik pada abad ke-20, bahkan dikenal sebagai salah satu sentra batik terbesar di wilayah Mataraman.
Jejak kejayaan itu masih tersisa hingga kini, terutama di kawasan Jalan Kawung, Kelurahan Kertosari, Kecamatan Babadan. Deretan rumah besar dengan dinding tinggi yang dulu menjadi pusat produksi batik masih berdiri, meski aktivitas membatik di kawasan tersebut sudah lama berhenti.
Budi Santoso (75), putra seorang pengusaha batik di Jalan Kawung, masih lekat mengingat hiruk pikuk produksi batik di masa lalu. Ia bercerita, pada tahun 1961 hampir setiap rumah di kawasan itu dipenuhi aroma malam (lilin batik) yang dipanaskan di atas kompor.
Baca juga : Residivis Curanmor Ditangkap Warga, Aksi di Kediri Gampengrejo, Kediri, Gagal Total
“Dulu kanan kiri rumah ini semua industri batik. Para juragan tinggal di sini, makanya temboknya tinggi-tinggi,” kenangnya, Kamis (2/10/2025).
Menurut Budi, kala itu terdapat sekitar 12 rumah industri batik di kawasan tersebut yang memproduksi beragam motif, mulai dari sidoluhur, sidomulyo, sidomukti, parang, sekar jagad, kawung, hingga semen remeng. Tak heran jika Jalan Kawung dikenal sebagai kawasan elit karena menjadi pusat para pengusaha batik Ponorogo.
Namun masa kejayaan itu tak bertahan lama. Persaingan industri, kemunculan batik cap, serta minimnya minat generasi penerus membuat usaha batik di Ponorogo perlahan tumbang.
Baca juga : Viva Hotel Kediri Rayakan Hari Batik Nasional dengan Pameran Karya Lokal
Kini, yang tersisa hanya bangunan bekas pabrik berupa gudang berdinding bata tinggi di wilayah Kertosari dan Cokromenggalan, serta penamaan jalan yang masih menggunakan motif batik.
“Ya akhirnya kalah bersaing, apalagi sekarang tiap daerah sudah punya industri batiknya sendiri,” ujar Budi menutup cerita.***
Reporter : Sony Prasetyo
Editor : Hadiyin





