New York, LINGKARWILIS.COM β Serikat Pekerja Otomotif Amerika Serikat atau United Automobile Workers (UAW) secara resmi melarang penggunaan dana serikat untuk berinvestasi dalam obligasi Israel. Kebijakan tersebut disambut Gerakan Boikot, Divestasi, dan Sanksi (BDS) sebagai bentuk solidaritas terhadap perjuangan rakyat Palestina.
Mengutip laporan Quds Press, Senin (20/7/2026), keputusan itu ditetapkan dalam Konvensi Konstitusi ke-39 UAW melalui pengesahan amandemen Pasal 7 Bagian 2 konstitusi organisasi pada 18 Juni 2026.
Amandemen tersebut menyatakan bahwa dana milik UAW tidak boleh diinvestasikan dalam obligasi yang diterbitkan oleh Israel.
Dengan keputusan tersebut, UAW menjadi serikat pekerja besar pertama di Amerika Serikat yang secara resmi mengadopsi kebijakan divestasi terhadap obligasi Israel.
Dalam pernyataan resminya, BDS menyebut kebijakan itu merupakan respons atas seruan masyarakat sipil Palestina yang selama ini meminta lembaga internasional, termasuk organisasi buruh, untuk menghentikan berbagai bentuk dukungan finansial yang dinilai berkaitan dengan kebijakan pemerintah Israel.
Menurut BDS, obligasi Israel digunakan untuk mendukung kebijakan pemerintah Israel yang mereka kritik, terutama di tengah konflik yang masih berlangsung di Jalur Gaza, situasi di Tepi Barat, serta meningkatnya ketegangan di kawasan.
BDS menjelaskan bahwa dorongan divestasi di tubuh UAW telah muncul sejak 1974. Saat itu, Kaukus Pekerja Arab-Amerika mengajukan usulan agar dana serikat tidak digunakan untuk berinvestasi dalam obligasi Israel.
Sejak saat itu, berbagai kampanye, aksi protes, hingga pemogokan dilakukan untuk mendorong perubahan kebijakan investasi organisasi.
Pada Konvensi Konstitusi 2026, usulan tersebut kembali diajukan oleh delegasi akar rumput yang tergabung dalam United Auto Workers Democracy (UAWD). Sebanyak 147 delegasi memberikan dukungan sehingga usulan dapat masuk agenda pembahasan dan akhirnya disahkan pada sidang 18 Juni 2026.
BDS menyampaikan apresiasi kepada para anggota dan penyelenggara yang dinilai berhasil memperjuangkan kebijakan tersebut sebagai bagian dari tradisi solidaritas gerakan buruh terhadap isu Palestina.
Selain keputusan UAW, BDS menyoroti langkah pemerintah negara bagian Maryland, yang dilaporkan telah menarik sekitar 85 persen investasinya dalam obligasi Israel, dengan nilai lebih dari US$62 juta, dalam kurun waktu kurang dari satu tahun.
Menurut BDS, langkah tersebut merupakan divestasi terbesar terhadap obligasi Israel yang pernah dilakukan oleh pemerintah negara bagian di Amerika Serikat.
Menutup pernyataannya, BDS mengajak serikat pekerja serta berbagai lembaga di Amerika Serikat dan Kanada untuk mengikuti langkah UAW dengan menghentikan investasi pada obligasi Israel maupun investasi lain yang dinilai berkaitan dengan kebijakan pemerintah Israel.
BDS menyatakan akan terus bekerja sama dengan organisasi buruh Palestina dalam mengampanyekan penghentian dukungan ekonomi terhadap Israel serta memperjuangkan hak-hak rakyat Palestina berdasarkan hukum internasional.***
Editor: Hadiyin





