LAMONGAN, LINGKARWILIS.COM – Rangkaian program kerja Kuliah Kerja Nyata (KKN) FORSUKA 2026 Universitas Islam Lamongan (UNISLA) di Desa Sukorejo, Kecamatan Turi, Kabupaten Lamongan, ditutup dengan aksi nyata peduli lingkungan.
Mahasiswa KKN bersama pemerintah desa, Karang Taruna, dan masyarakat setempat bergotong royong membuat ikon desa bertuliskan “I ❤️ SUKOREJO” dengan memanfaatkan limbah plastik melalui konsep ecobrick.
Menariknya, ikon tersebut dibuat sepenuhnya dari barang bekas tanpa menggunakan material baru. Botol plastik bekas serta berbagai limbah kemasan rumah tangga, seperti plastik saset deterjen dan sampah plastik sehari-hari, dikumpulkan, dipadatkan, kemudian dirangkai menjadi bagian utama instalasi.
Kegiatan tersebut menjadi bukti bahwa limbah anorganik yang selama ini kerap dianggap sebagai persoalan lingkungan dapat diolah menjadi karya yang memiliki nilai estetika sekaligus fungsi.
Baca juga : Mantan Anak Asuh Bima Sakti di Piala Dunia U-17 Gabung Persela Lamongan
Koordinator Mahasiswa KKN UNISLA Kelompok 4, M. Farid Ali Mahmud, mengatakan pembuatan ikon desa bukan sekadar penanda berakhirnya masa pengabdian mahasiswa. Kegiatan tersebut juga menjadi sarana membangun kolaborasi sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pengelolaan sampah.
“Kepedulian dapat dimulai dari hal kecil, termasuk memilah, mengurangi, dan memanfaatkan kembali sampah yang ada di lingkungan sekitar. Ikon ‘I ❤️ SUKOREJO’ menjadi representasi pesan sederhana bahwa mencintai desa tidak harus selalu diwujudkan melalui pembangunan besar,” ujar Farid, Jumat (14/8/2026).
Semangat gotong royong terlihat selama proses pengerjaan. Warga Desa Sukorejo turut terlibat secara langsung, mulai dari mengolah limbah plastik, memadatkan ecobrick, hingga merangkai material menjadi sebuah instalasi.
Kepala Desa Sukorejo Suminto mengapresiasi inovasi yang dihadirkan mahasiswa KKN FORSUKA 2026 UNISLA. Menurutnya, karya tersebut menjadi penutup masa pengabdian mahasiswa yang diharapkan dapat memberikan manfaat dalam jangka panjang.
Baca juga : Isak Tangis Warnai Pertemuan Paskibraka Kabupaten Kediri dengan Orang Tua
“Semoga ikon ‘I ❤️ SUKOREJO’ menjadi warisan sederhana yang terus menghidupkan semangat kreativitas, gotong royong, kepedulian terhadap lingkungan, serta kecintaan masyarakat terhadap desa,” ungkap Suminto.
Ia menambahkan, keberadaan ikon berbahan ecobrick tersebut juga dapat menjadi pengingat bagi masyarakat bahwa kreativitas dan kepedulian terhadap lingkungan dapat berjalan beriringan.
Limbah plastik yang sebelumnya berpotensi mencemari lingkungan kini diubah menjadi simbol kebanggaan warga sekaligus membawa pesan sosial tentang pentingnya menjaga kebersihan dan kelestarian alam.
“Sebab, ketika sampah diubah menjadi karya, yang sebenarnya sedang dibangun bukan hanya sebuah ikon, tetapi juga kesadaran bahwa menjaga lingkungan bisa dimulai dari tangan sendiri,” pungkasnya.***
Reporter: Suprapto
Editor : Hadiyin





