Kediri, LINGKARWILIS.COM – Nama Paramartha Tri Gangsa, grup seni karawitan milik SMP Negeri 3 Grogol, Kabupaten Kediri, cukup dikenal di kalangan pelajar dan sekolah setempat. Kelompok seni ini menjadi salah satu kegiatan ekstrakurikuler yang hingga kini terus aktif dikembangkan.
Grup karawitan tersebut beranggotakan 15 siswa yang berasal dari kelas VII hingga kelas IX. Mereka rutin berlatih memainkan berbagai perangkat gamelan sekaligus mempersiapkan diri untuk tampil dalam berbagai kegiatan.
Kepala SMP Negeri 3 Grogol, Musiin, M.Pd., mengatakan Paramartha Tri Gangsa memiliki sejumlah prestasi. Salah satunya meraih juara pertama dalam festival seni tingkat Kabupaten Kediri pada 2025.
Tak hanya berprestasi dalam perlombaan, grup tersebut juga telah beberapa kali tampil dalam berbagai acara berskala besar. Para siswa bahkan telah menguasai belasan gending serta didukung penari dan sinden dalam setiap pementasan.
Baca juga : Curi Perhatian, Raffi Ahmad Kenakan Busana Khas Kabupaten Kediri di Upacara Kemerdekaan
“Sejauh ini pembinanya seorang guru seni ternama di Kabupaten Kediri dan memiliki grup campursari. Di tangan guru seni itulah mereka terampil memainkan gamelan pelog dan slendro. Kematangan berlatih membawa hasil sebuah pertunjukan anak didik kami,” ujar Musiin.
Menurutnya, pembelajaran seni karawitan tidak hanya bertujuan meningkatkan keterampilan siswa di bidang kesenian. Kegiatan tersebut sekaligus menjadi sarana mengenalkan dan menjaga keberlangsungan budaya tradisional kepada generasi muda.
Musiin menyebut kegiatan tersebut sejalan dengan upaya mendukung program Kediri Berbudaya yang dicanangkan Pemerintah Kabupaten Kediri. Menurutnya, kecintaan terhadap tradisi perlu ditanamkan sejak usia sekolah.
“Menjaga tradisi harus dilatih sejak dini dan salah satunya mengenalkan seni karawitan pada siswa SMP Negeri 3 Grogol,” katanya.
Baca juga : Kirab Merah Putih Raksasa Diikuti 1.147 Peserta, Kobarkan Semangat Patriotisme di Kota Kediri
Ia berharap para siswa tetap konsisten melestarikan seni karawitan tanpa mengesampingkan kewajiban utama mereka sebagai pelajar. Pendidikan formal dan kegiatan positif di sekolah maupun di luar sekolah dinilai harus berjalan beriringan.
“Kita inginkan anak-anak tetap bisa menjaga seni karawitan ini untuk dilestarikan. Anak-anak juga harus tetap belajar sebagai penopang masa depan lebih baik, tetap lurus belajar dan positif dalam kegiatan di sekolah dan luar sekolah,” pungkasnya.***
Reporter : Bakti Wijayanto
Editor : Hadiyin





