Jombang, LINGKARWILIS.COM – Suasana kebersamaan mewarnai peringatan Hari Santri 2026 yang digelar Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Jombang melalui tradisi Liwetan Akbar, Kamis (29/10/2026). Lebih dari 450 warga Nahdliyin bersama pengurus, tokoh agama, dan para kiai hadir dalam kegiatan tasyakuran tersebut.
Bukan sekadar perayaan, kegiatan ini menjadi ruang untuk mempererat persaudaraan, menjaga tradisi lokal, sekaligus mengenang kontribusi ulama dan santri dalam perjalanan bangsa Indonesia.
Kebersamaan tampak ketika seluruh peserta duduk mengelilingi hidangan yang disajikan di atas hamparan daun pisang. Berbagai menu khas pedesaan tersaji, mulai nasi putih, ikan, urap-urap, gorengan, sambal, hingga lalapan.
Para peserta menikmati makanan bersama tanpa sekat sambil berbincang dan menjalin keakraban. Tradisi tersebut mencerminkan nilai kesederhanaan, persaudaraan, dan gotong royong yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat, khususnya di lingkungan pesantren.
Baca juga : Operasi Patuh Hari Keempat, Satlantas Jombang Tindak 20 Pengendara di Depan Pabrik Pei Hai
Suasana semakin semarak dengan pembagian ratusan hadiah atau doorprize. Berbagai barang disiapkan panitia, mulai dari perlengkapan rumah tangga seperti bantal, kipas angin, dan jam dinding, hingga perlengkapan ibadah berupa sarung dan kopyah serta suvenir khusus Hari Santri 2026.
Ketua PCNU Jombang, KH Fahmi Amrullah Hadzik, menyampaikan bahwa Liwetan Akbar merupakan tradisi masyarakat Jawa yang memiliki nilai sosial dan budaya. Menurutnya, kegiatan semacam ini perlu terus dilestarikan karena menjadi sarana memperkuat hubungan antarsesama.
“Alhamdulillah tradisi-tradisi seperti ini yang harus kita lestarikan, karena intinya sesungguhnya adalah silaturahmi,” ungkap Gus Fahmi, sapaan akrabnya.
Hal senada disampaikan Ketua Majelis Yayasan Pondok Pesantren Darul Ulum, KH Cholil Dahlan. Ia menjelaskan bahwa tradisi liwetan merupakan bagian dari budaya Jawa yang turut dijaga oleh pondok pesantren agar tetap hidup di tengah masyarakat.
Baca juga : Polres Jombang Ungkap 14 Kasus Pencurian, 17 Tersangka Diamankan Termasuk 3 Residivis
“Tradisi makan dalam liwetan itulah sebetulnya yang disatukan oleh pondok pesantren di seluruh Indonesia. Pondok pesantren itu menjaga tradisi supaya tradisi warga Indonesia,” terangnya.
Melalui tasyakuran tersebut, PCNU Jombang ingin menghidupkan kembali nilai-nilai luhur pesantren, seperti kebersamaan, persaudaraan, penghormatan terhadap tradisi, dan semangat persatuan.
KH Cholil Dahlan berharap Nahdlatul Ulama ke depan tetap menjaga kesatuan visi dan gerakan dalam berkhidmat kepada masyarakat serta bangsa.
“Kami berharap mudah-mudahan NU ke depan itu tetap satu misi, satu visi, satu gerak. Insyaallah Indonesia akan jadi sesuai yang diharapkan Mbah Wahab dalam lagu Yalal Wathon, baik perilaku dan keilmuannya,” pungkasnya.
Sementara itu, Asisten I Sekretariat Daerah Kabupaten Jombang, Purwanto, yang hadir mewakili Bupati Jombang, mengajak masyarakat menjadikan Hari Santri sebagai momentum untuk bersyukur sekaligus menghargai perjuangan para kiai dan santri dalam merebut serta mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
“Momentum Hari Santri ini hendaknya kita jadikan sebagai sarana untuk meningkatkan rasa syukur dan terima kasih atas perjuangan para kiai dan santri yang telah ikut berjuang merebut serta mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia,” papar Purwanto.
Ia menambahkan, penghormatan terhadap jasa para pendahulu harus diwujudkan melalui tindakan nyata, bukan hanya kegiatan seremonial. Masyarakat diharapkan terus menjaga persatuan, menguatkan semangat gotong royong, dan berkontribusi dalam pembangunan daerah.
“Untuk mengisi kemerdekaan sekaligus mewujudkan rasa syukur dan terima kasih tersebut, mari kita tingkatkan persatuan dan semangat gotong royong. Dengan kebersamaan, kita dapat membangun Kabupaten Jombang serta meningkatkan kesejahteraan seluruh masyarakat,” tuturnya.***
Reporter: Taufiqur Rachman
Editor : Hadiyin




