Pegiat Seni Jombang Angkat Isu Krisis Ekologis Lewat Puisi, Musik, dan Pantomim

Pegiat Seni Jombang Angkat Isu Krisis Ekologis Lewat Puisi, Musik, dan Pantomim
Para pengiat seni melakukan aksi solidaritas lintas komunitas di Taman Kebon Rojo, Kebupaten Jombang, Minggu (1/11/2026) kemarin (Jombang)

Jombang, LINGKARWILIS.COM – Puluhan pegiat seni di Kabupaten Jombang menggelar aksi bertajuk Solidaritas Seni untuk Iklim sebagai bentuk kepedulian terhadap krisis ekologis. Beragam ekspresi seni, mulai dari pembacaan puisi, pertunjukan musik, pantomim hingga diskusi, dihadirkan di Taman Kebonrojo, Kabupaten Jombang.

Koordinator kegiatan, Rico Aswandi, yang mewakili Literasi Jalanan Jombang, menjelaskan bahwa agenda tersebut merupakan hasil kolaborasi sejumlah komunitas lingkungan, literasi, dan budaya dari Jombang serta berbagai daerah di Jawa Timur.

Kegiatan ini juga mendapat dukungan dari komunitas Gusdurian, Bait Kata Library, WALHI Jawa Timur, Rumah Merdeka, Pantomim Nusantara, dan sejumlah komunitas independen lainnya.

“Solidaritas Seni untuk Iklim ini digagas sebagai kerja bersama lintas komunitas. Kami ingin mengajak publik untuk lebih peduli terhadap krisis iklim atau krisis ekologis yang saat ini terjadi di berbagai wilayah Indonesia,” ucap Rico kepada awak media, Selasa (3/11/2026) pagi.

Baca juga : Kelud Vertical Challenge 2026 Jadi Ajang Promosi Wisata Gunung Kelud, Peserta Nikmati Panorama Alam Kediri

Menurut Rico, salah satu persoalan lingkungan yang menjadi perhatian mereka adalah kebakaran hutan di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Sumatra, Kalimantan, dan Papua.

Melalui pendekatan seni dan budaya, para pegiat ingin menyediakan ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan kepedulian, aspirasi, kritik, maupun harapan terkait kondisi lingkungan dan masa depan Indonesia.

Ia menegaskan, suara masyarakat akar rumput atau grassroots perlu dihargai sebagai bagian dari hak warga negara untuk menyampaikan pendapat dan berekspresi, bukan dianggap sebagai bentuk kebencian.

“Harapannya, suara dari grassroots, baik berupa aspirasi, kritik, maupun saran, tidak lagi dianggap sebagai bentuk kebencian. Itu merupakan hak masyarakat untuk berpendapat, berekspresi, serta mendapatkan pendidikan, kesehatan, lingkungan, dan ekonomi yang terjamin sebagaimana telah diatur dalam undang-undang,” jelasnya.

Dalam kegiatan tersebut, panitia menyuguhkan sejumlah agenda yang menggabungkan seni, literasi, musik, dan ruang dialog. Rangkaian acara meliputi pembacaan puisi, lapak baca, pertunjukan musik langsung, pantomim, CKG, serta diskusi bersama.

Baca juga : PAUD Sigap di Kota Kediri, Mbak Wali Temani Anak-anak Belajar Cara Menyelamatkan Diri Saat Terjadi Bencana

“Berbagai kegiatan kemarin itu menjadi medium bagi peserta dan pengunjung Car Free Day untuk terlibat menyuarakan kepedulian terhadap isu lingkungan melalui pendekatan kreatif dan terbuka,” imbuhnya.

Seluruh kegiatan diselenggarakan secara swadaya oleh komunitas yang terlibat. Selain menjadi wadah ekspresi dan penyampaian aspirasi, penyelenggara juga membuka penggalangan dana untuk mendukung komunitas kebudayaan dan pegiat lingkungan di Palangkaraya, Kalimantan Tengah.

“Donasi yang terkumpul nantinya akan disalurkan kepada organisasi kebudayaan dan komunitas pegiat lingkungan di wilayah tersebut. Penggalangan donasi direncanakan berlangsung hingga H+1,” terangnya.

Sejumlah kegiatan pendukung turut memeriahkan acara, di antaranya layanan cukur rambut gratis dan sablon cukil. Melalui berbagai aktivitas tersebut, Jombang Kolektif berharap solidaritas tidak hanya terwujud melalui pertunjukan seni dan diskusi, tetapi juga diwujudkan dalam aksi nyata serta kerja sama antarkomunitas.

Rico menambahkan, gerakan Solidaritas Seni untuk Iklim menjadi pengingat bahwa persoalan lingkungan merupakan tanggung jawab bersama. Ia berharap kepedulian dan gerakan kolektif yang tumbuh dari komunitas dapat terus berkembang untuk mendorong masa depan lingkungan yang lebih baik.

“Solidaritas Seni untuk Iklim menjadi pengingat bahwa persoalan lingkungan merupakan tanggung jawab bersama. Dari ruang-ruang kecil di tengah masyarakat, suara dan gerakan kolektif diharapkan terus tumbuh untuk mendorong masa depan yang lebih baik,” pungkas Rico.***

Reporter: Taufiqur Rachman

Editor : Hadiyin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *