Perkuat Identitas Budaya Lokal, Desa Tlemang Lamongan Luncurkan Udeng Semolo Gandring

Perkuat Identitas Budaya Lokal, Desa Tlemang Lamongan Luncurkan Udeng Semolo Gandring
Bupati Lamongan Yuhronur Efendi didampingi Kepala Desa Tlemang Aris Pramono dalam tradisi kaum laki - laki memasak dalan tradisi adat Mendhak Senggring .(Ist)

LAMONGAN, LINGKARWILIS.COM – Pemerintah Desa Tlemang, Kecamatan Ngimbang, Kabupaten Lamongan, terus berupaya menjaga eksistensi tradisi peninggalan leluhur. Salah satu langkah terbaru yang dilakukan yakni meluncurkan ikat kepala khas daerah setempat bernama Udeng Semolo Gandring dalam rangkaian tradisi Mendhak Sanggring, Minggu (8/11/2026).

Peluncuran udeng tersebut menjadi bagian dari kegiatan Sanggring Ziarah Buyut Terik. Inovasi ini diharapkan tidak hanya memperkuat identitas masyarakat Tlemang, tetapi juga menjadi media untuk memperkenalkan kekayaan budaya lokal kepada khalayak yang lebih luas.

Mendhak Sanggring merupakan upacara adat warisan turun-temurun yang diselenggarakan setiap sekitar tanggal 27 Jumadil Awal. Tradisi ini telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) dan menjadi ungkapan rasa syukur masyarakat atas limpahan hasil bumi sekaligus penghormatan kepada Ki Buyut Terik, sosok leluhur yang dipercaya sebagai pendiri Desa Tlemang.

Baca juga : Universitas Biltfath Lamongan Gelar Wisuda Sarjana ke VI 2026, Rektor Tekankan Pentingnya Nalar dan Adab

Dalam pelaksanaannya, Mendhak Sanggring memiliki sejumlah tahapan ritual. Di antaranya bersih sendang, membersihkan makam leluhur, pertunjukan Wayang Krucil, serta prosesi memasak bersama kuliner tradisional Kuah Sanggring sebagai puncak kegiatan.

Sanggring merupakan makanan khas berbahan dasar ayam Jawa yang diolah menggunakan racikan bumbu tradisional warisan nenek moyang. Ada keunikan dalam proses pembuatannya, yakni seluruh kegiatan memasak dilakukan secara gotong royong oleh kaum laki-laki Desa Tlemang sesuai aturan adat yang berlaku.

Selain mempertahankan tradisi tersebut, masyarakat Tlemang kini memiliki identitas budaya baru melalui Udeng Semolo Gandring. Ikat kepala ini dirancang dengan sejumlah bentuk dan lipatan yang masing-masing mengandung makna filosofis.

Pada bagian kiri terdapat ornamen menyerupai gunungan yang merepresentasikan Gunung Inggil di Desa Tlemang. Sementara bagian depan memiliki bentuk ikatan seperti tongkat atau teken dalam bahasa Jawa, yang dimaknai sebagai simbol tuntunan dan arah tujuan hidup.

Adapun tiga lipatan di sisi kanan menggambarkan tiga kenceng atau wadah besar yang digunakan untuk memasak Sanggring. Pada bagian lipatan terluar terdapat lima tekukan yang merepresentasikan nilai-nilai Pancasila dan Rukun Islam.

Baca juga : Bandara Dhoho Kediri Resmi Jadi Embarkasi Haji 2027, Layani 9.641 Calon Jemaah

Berbagai simbol tersebut menggambarkan nilai kehidupan, spiritualitas, serta kearifan lokal yang selama ini melekat dalam kehidupan masyarakat Desa Tlemang.

Kepala Desa Tlemang, Aris Pramono, mengatakan bahwa pelestarian Mendhak Sanggring tidak cukup hanya dengan mempertahankan pelaksanaan ritual adat. Pemerintah desa juga berupaya menjadikan tradisi tersebut sebagai potensi yang mampu memberikan dampak positif terhadap perekonomian masyarakat, khususnya pelaku UMKM.

Menurut Aris, kehadiran Udeng Semolo Gandring merupakan salah satu gagasan untuk memperkuat keberadaan Mendhak Sanggring. Bahkan, pemerintah desa telah menyiapkan rencana pengembangan produk budaya lainnya berupa batik dengan motif khas Tlemang yang terinspirasi dari tradisi tersebut.

“Untuk menunjang itu (Mendhak Sanggring), kita mempunyai ide dan gagasan dengan mengembangkan udeng, dan rencana ke depan kita juga mau membuat batik yang bermotif Tlemang yang berkaitan langsung dengan Mendhak Sanggring,” jelas Aris.

Ia menerangkan, tiga lipatan pada Udeng Semolo Gandring sengaja dibuat sebagai representasi tiga kenceng yang digunakan dalam proses memasak Sanggring. Angka tersebut juga memiliki makna lebih dalam mengenai tahapan kehidupan manusia.

“Filosofi Sanggring, Sanggring mempunyai tiga tempat masak atau kenceng, di sini ada lipatan tiga yang menggambarkan kenceng itu sendiri. Kenapa tidak empat atau lima? Orang dulu mengartikan Sanggring itu bisa dimaknai seperti lapisan kehidupan juga, dari alam kandungan, alam dunia, dan alam akhirat,” imbuhnya.

Peluncuran udeng khas Tlemang tersebut turut dihadiri Bupati Lamongan, Yuhronur Efendi. Dalam kesempatan itu, bupati yang akrab disapa Pak Yes mengingatkan pentingnya peran seluruh elemen masyarakat dalam menjaga keberlangsungan tradisi peninggalan para pendahulu.

Menurutnya, Mendhak Sanggring merupakan salah satu kekayaan budaya yang menjadi ciri khas Desa Tlemang. Terlebih, tradisi tersebut telah memperoleh pengakuan sebagai Warisan Budaya Takbenda dari Pemerintah Republik Indonesia.

Ia menilai, keberadaan tradisi tersebut harus terus dijaga karena mengandung nilai-nilai filosofis yang penting bagi kehidupan masyarakat.

“Jadi ini kekhasan dan keunikan khusus dari Desa Tlemang. Mendhak Sanggring ini salah satu budaya yang sudah diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda oleh Pemerintah Republik Indonesia, sehingga kewajiban bagi kita semua bahwa budaya ini akan terus kita laksanakan karena ini mengandung filosofi yang tinggi bagi seluruh masyarakatnya,” ungkap Pak Yes.

Bupati juga menyambut positif peluncuran Udeng Semolo Gandring. Ia berharap produk budaya tersebut dapat menjadi simbol identitas masyarakat Tlemang sekaligus membawa semangat memperkenalkan kebudayaan daerah ke tingkat yang lebih luas.

“Dari kegiatan ini kita juga melaunching udeng khas dari Tlemang ini yang namanya Semolo Gandring, diharapkan udeng ini menampilkan suatu semangat dari Tlemang ini untuk Indonesia, dari Lamongan untuk Indonesia,” tambahnya.

Dukungan terhadap pelestarian tradisi Mendhak Sanggring juga disampaikan Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga (Disparbudpora) Kabupaten Lamongan, Siti Rubikah.

Ia menyebut Mendhak Sanggring sebagai salah satu kekayaan budaya daerah yang perlu terus dirawat agar tidak tergerus perkembangan zaman. Selain menjadi bentuk penghormatan kepada leluhur dan ungkapan syukur atas hasil bumi, tradisi ini juga memperlihatkan kuatnya nilai gotong royong masyarakat.

Seluruh rangkaian kegiatan, mulai dari membersihkan sendang dan makam leluhur, pertunjukan Wayang Krucil hingga memasak Kuah Sanggring, memiliki peran penting dalam menjaga keberlanjutan warisan budaya tersebut.

Keterlibatan kaum laki-laki dalam proses memasak Sanggring secara bersama-sama juga menjadi keunikan tersendiri. Tradisi ini menunjukkan bahwa kegiatan memasak bukan sekadar menghasilkan hidangan khas, tetapi sekaligus menjadi sarana mempererat kebersamaan dan mewariskan nilai-nilai adat kepada generasi berikutnya.

Dengan hadirnya Udeng Semolo Gandring dan rencana pengembangan batik bermotif khas Tlemang, pemerintah desa berharap Mendhak Sanggring semakin dikenal masyarakat luas. Upaya tersebut sekaligus diarahkan untuk memperkuat identitas budaya daerah serta menciptakan peluang ekonomi baru bagi warga dan pelaku UMKM setempat.***

Reporter: Suprapto

Editor : Hadiyin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *