KEDIRI, LINGKARWILIS.COM – Di tengah gempuran modernisasi, satu lagi kekayaan budaya Nusantara mulai tenggelam dari ingatan generasi muda yakni Aksara Kawi. Aksara kuno yang menjadi cikal bakal “Ha Na Ca Ra Ka” ini kini nyaris tidak dikenal, bahkan tak lagi diajarkan di sekolah-sekolah.
Ki Hajar Doni Wicaksonojati, budayawan sekaligus pemerhati aksara kuno, menegaskan bahwa Aksara Kawi merupakan sistem tulisan tertua yang pernah berkembang di tanah Jawa. Ia menyampaikan keprihatinan tersebut saat menghadiri ajang Lomba Cipta Tari Kreasi di Gua Selomangkleng, Minggu (3/8/2025).
“Aksara Kawi adalah warisan adiluhung dari peradaban Nusantara. Sayangnya, generasi milenial saat ini tidak memiliki akses untuk mengenalnya, apalagi mempelajarinya,” ungkapnya.
Baca juga : Tarif Parkir di Acara Mahakarya di Kota Kediri Dikeluhkan Pengunjung, Rp10 Ribu Tanpa Karcis
Minimnya literasi budaya dan ketiadaan kurikulum atau wadah pembelajaran khusus menjadi penyebab utama aksara ini semakin terpinggirkan. Ia mengaku telah mengusulkan pelestarian aksara Kawi kepada Dinas Pendidikan, namun hingga kini belum membuahkan hasil.
“Sudah kami sampaikan pentingnya aksara ini agar tidak punah. Tapi belum ada respon konkret,” lanjut Ki Hajar.
Menurutnya, pelestarian Aksara Kawi tidak cukup hanya dengan wacana. Ia mendorong adanya langkah strategis dari berbagai pihak pemerintah daerah, lembaga pendidikan, dan komunitas budaya melalui pelatihan, pengenalan muatan lokal, hingga digitalisasi naskah kuno berbasis aksara Kawi.
Baca juga : Malam Spektakuler “Power of Java”, Ribuan Warga Padati Memorial Park Kota Kediri
“Jika tidak segera diselamatkan, aksara ini hanya akan menjadi artefak diam dalam sejarah. Padahal, ia adalah jati diri kita sebagai bangsa yang besar,” tegasnya.***
Reporter : Agus Sulistyo Budi
Editor : Hadiyin



