Banyak Masalah dalam Penerbangan Jemaah Haji, Kemenag : Manajemen Garuda Gagal Beri Layanan Terbaik

Garuda gagal beri layanan terbaik pada jemaah haji
Juru bicara Kementerian Agama Anna Hasbie (kemenag.go.id)

LINGKARWILIS.COM – Kementerian Agama (Kemenag) mencatat berbagai persoalan dalam penerbangan jemaah haji oleh Garuda Indonesia selama fase pemberangkatan ke Madinah.
Meskipun telah diberikan teguran tertulis pada 16 Mei, Kemenag menilai belum ada perbaikan signifikan dalam layanan.

Dilansir dari laman resmi Kemenag,  Juru Bicara Kementerian Agama, Anna Hasbie mengatakan performa Garuda Indonesia tahun ini sangat buruk dalam memberikan layanan kepada jemaah haji.

banner 400x130

Anna menjelaskan beberapa masalah yang terjadi sejak 12 Mei 2024. Pertama, kerusakan mesin pesawat di Embarkasi Makassar yang menyebabkan sayap kanan pesawat mengeluarkan api saat lepas landas penerbangan jemaah kelompok terbang (kloter) lima Embarkasi Makassar (UPG-05). Ini berdampak pada keterlambatan penerbangan berikutnya.

Baca juga : Pj Wali Kota Kediri Zanariah Apresiasi Kota Kediri Masuk 5 Besar Penghargaan Mensukseskan Gerakan Transisi PAUD-SD yang Menyenangkan

Kedua, keterlambatan penerbangan yang tinggi. Ontime performance (OTP) Garuda Indonesia sangat buruk, dengan 38 dari 80 penerbangan mengalami keterlambatan, mencapai 47,5%. Beberapa penerbangan bahkan terlambat hingga 3 jam 50 menit, total keterlambatan mencapai 32 jam 24 menit.

Ketiga, pecah kloter yang terjadi beberapa kali, bukan hanya sekali seperti yang diperkirakan. Salah satunya dialami UPG-06 karena Garuda tidak bisa menggantikan pesawat yang mesinnya rusak dengan jenis pesawat yang sama.

Baca juga : Kota Kediri Buktikan “Kepemimpinan Politik” Penting untuk Keberlanjutan Air dengan Mengikuti World Water Forum

Hingga kini, sudah ada empat penerbangan yang pecah kloter, yang berarti satu kloter jemaah tidak bisa diterbangkan bersama-sama.

Keempat, tas kabin dan kursi roda jemaah tidak terbawa. Pada penerbangan kloter 28 Embarkasi Solo (SOC 28), 11 kursi roda dan 120 koper kabin tidak terangkut dan baru diterbangkan bersama pesawat kloter 33 Embarkasi Solo (SOC 33). Ini menyebabkan kerugian bagi jemaah SOC 28 yang harus mencari-cari barang mereka setibanya di Bandara Amir Muhammad bin Abdul Aziz (AMAA) Madinah.

” Garuda Indonesia harus meminta maaf dan memberikan kompensasi kepada jemaah yang dirugikan, serta segera melakukan perbaikan layanan ke depan,” tegasnya.

Potensi masalah ini, lanjut Anna Hasbie, masih bisa bertambah karena masa penerbangan jemaah ke Tanah Suci masih akan berlangsung hingga 10 Juni mendatang.***

Editor : Hadiyin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *