BMKG : Hujan Saat Musim Kemarau di Kediri Dipicu Gelombang Rossby, Kondisi Dinilai Normal

BMKG: Hujan Saat Musim Kemarau di Kediri Dipicu Gelombang Rossby, Kondisi Dinilai Normal
Gambaran kondisi perubahan cuaca di Kabupaten Kediri di bulan ini saat kemarau timbul hujan (ist)

Kediri, LINGKARWILIS.COM – Sejumlah wilayah di Kabupaten Kediri diguyur hujan ringan hingga sedang dalam beberapa hari terakhir, meski saat ini masih memasuki musim kemarau. Fenomena tersebut sempat mengejutkan masyarakat karena terjadi di tengah cuaca panas yang identik dengan musim kering.

Hujan tercatat mengguyur wilayah Pare, Kepung, Puncu, dan Kandangan sekitar pukul 14.30 hingga 16.00 WIB. Sebelumnya, hujan juga terjadi di kawasan Ngancar, Wates, dan Plosoklaten setelah sejak pagi kondisi cuaca tampak mendung.

Ketua Tim Kerja Publik BMKG Stasiun Meteorologi Kelas III Dhoho Kediri, Satria Krida Nugraha, menjelaskan hujan yang terjadi dipengaruhi oleh melintasnya gelombang ekuator Rossby di wilayah Indonesia.

Baca juga : Kereta Pusaka Bupati Kediri I Jadi Korban Vandalisme, Kasus Dilaporkan ke Polisi

Menurutnya, fenomena tersebut memengaruhi kondisi atmosfer sehingga meningkatkan peluang terbentuknya hujan lokal meskipun wilayah Kediri masih berada dalam periode musim kemarau.

“Kondisi seperti ini merupakan hal yang normal. Hujan yang terjadi pada musim kemarau dipengaruhi oleh fenomena gelombang ekuator Rossby yang sedang melintas,” kata Satria.

Ia menjelaskan, keberadaan gelombang Rossby juga menyebabkan kecepatan angin menurun dari kondisi rata-rata sehingga mendukung pembentukan awan hujan, terutama pada sore hingga malam hari.

Meski demikian, BMKG memperkirakan kondisi tersebut hanya bersifat sementara. Memasuki awal Agustus, cuaca di wilayah Kediri diprediksi kembali didominasi kondisi khas musim kemarau, yakni cerah hingga berawan dengan peluang hujan yang lebih rendah.

“Cuaca akan kembali normal seperti musim kemarau pada umumnya,” ujarnya.

Baca juga : Sehari Dua Kebakaran Terjadi di Kabupaten Kediri, Dipicu Pembakaran Sampah

BMKG juga merilis prakiraan curah hujan untuk periode Agustus 2026 hingga Januari 2027. Pada Agustus hingga Oktober, curah hujan diperkirakan masih berada dalam kategori rendah, berkisar 0–20 milimeter per bulan.

Memasuki November, intensitas hujan diperkirakan mulai meningkat meski belum merata, dengan curah hujan berkisar 50–100 milimeter per bulan di sebagian besar wilayah.

Selain itu, Satria menyebut fenomena El Niño yang diperkirakan terjadi tahun ini berpotensi menyebabkan musim kemarau berlangsung lebih panjang, sehingga awal musim hujan diprediksi mengalami kemunduran dibandingkan kondisi normal.***

Reporter: Bakti Wijayanto

Editor : Hadiyin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *