Trenggalek, LINGKARWILIS.COM – Musim hujan di Kabupaten Trenggalek diperkirakan akan dimulai pada dasarian I hingga III Oktober, dengan puncaknya terjadi pada dasarian III, yaitu antara tanggal 21 hingga akhir bulan.
Berdasarkan informasi dari BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Timur, tujuh kecamatan di Trenggalek akan memasuki awal musim hujan pada dasarian III, yaitu Kecamatan Durenan, Gandusari, Karangan, Pogalan, Suruh, Trenggalek, dan Tugu.
Sementara itu, Kecamatan Panggul dan Pule akan mulai mengalami hujan pada dasarian II, atau antara tanggal 11 hingga 20 Oktober. Lima kecamatan lainnya, yakni Kecamatan Bendungan, Dongko, Kampak, Munjungan, dan Watulimo, akan memasuki musim hujan pada dasarian I, mulai dari tanggal 1 hingga 10 Oktober.
Secara keseluruhan, awal musim hujan di wilayah Jawa Timur bervariasi, dimulai pada dasarian III September hingga dasarian I Desember, dengan puncak musim hujan diperkirakan akan terjadi pada dasarian II November, meliputi 62,2 persen wilayah Jawa Timur.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Trenggalek mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi, seperti tanah longsor di daerah pegunungan dan banjir di kawasan perkotaan. Kepala BPBD Trenggalek, Triadi Admono, juga memperingatkan adanya potensi pohon tumbang.
“Berkaca dari hujan yang berlangsung dua hari berturut-turut pada 19-20 Oktober, telah menyebabkan 23 rumah rusak ringan dan satu jembatan rusak berat di tujuh desa dari empat kecamatan,” ungkap Triadi.
Baca juga : Serangan Artileri Israel Tewaskan Warga Sipil di Gaza Utara
Peristiwa tersebut meliputi longsor di Desa Dukuh dan Sawahan (Kecamatan Watulimo), Desa Jombok dan Desa/Kecamatan Pule, serta longsor dan banjir di Desa Tawing dan Bangun (Kecamatan Munjungan). Ada pula laporan retakan tanah di Desa Sumurup (Kecamatan Bendungan).
Sebanyak 69 jiwa dari 23 kepala keluarga terdampak oleh bencana tersebut, namun tidak ada korban jiwa dilaporkan.
Untuk meminimalkan dampak bencana, BPBD Trenggalek bekerja sama dengan instansi terkait terus melakukan langkah-langkah mitigasi, termasuk memastikan alat deteksi bencana berfungsi dengan baik dan meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat. BPBD juga membentuk Desa Tangguh Bencana (Destana) sesuai dengan potensi bencana di masing-masing wilayah.***
Reporter: Angga Prasetya
Editor: Hadiyin





