Kediri, LINGKARWILIS.COM – Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) di Kediri tahun ini diwarnai nuansa berbeda. Tak sekadar seremoni, kegiatan tersebut menjadi ruang refleksi bersama lintas komunitas yang mengusung pesan perdamaian global. Acara digelar di Situs Persada Soekarno atau Ndalem Pojok, Desa Pojok, Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri, Jumat malam (1/5/2026).
Mengangkat tema “Pendidikan Jati Diri Bangsa Merajut Perdamaian Dunia”, kegiatan ini dihadiri berbagai elemen masyarakat, tokoh lintas komunitas, serta pegiat pendidikan dan budaya. Rangkaian acara diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan pembacaan Sumpah Jati Diri Bangsa dalam suasana yang khidmat.

Pemilihan lokasi di Situs Persada Soekarno bukan tanpa alasan. Tempat ini dikenal sebagai salah satu lokasi masa kecil Soekarno, yang diyakini menjadi ruang awal tumbuhnya kesadaran kebangsaan dan nilai kemanusiaan sang proklamator.
Baca juga : APBN Kediri Raya Tumbuh Positif hingga Maret 2026, Sinergi Kemenkeu Dorong Ekonomi Daerah
Ketua panitia, R.M. W.T. Suhardono, S.E., menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk refleksi terhadap kondisi global yang tengah diwarnai berbagai konflik.
“Semangat dari Ndalem Pojok melahirkan gagasan besar Bung Karno tentang perdamaian dunia. Dari tempat sederhana ini lahir pemikiran yang mampu mempersatukan bangsa-bangsa,” ujarnya.
Ia juga menyinggung peran Indonesia dalam sejarah diplomasi internasional, salah satunya melalui Konferensi Asia Afrika 1955 yang menjadi tonggak solidaritas negara berkembang.
“Di tengah situasi global saat ini, Indonesia diharapkan kembali mengambil peran strategis sebagai penengah yang berwibawa,” tegasnya.
Selain mengangkat nilai historis, kegiatan ini juga menyoroti kekuatan doa dari sudut pandang spiritual dan ilmiah. Dalam sesi pemaparan, disebutkan bahwa doa bersama diyakini memiliki dampak luas, tidak hanya secara keagamaan tetapi juga dalam perspektif sains modern.
Baca juga : Sebanyak 1.215 Koper JCH Kabupaten Kediri Tersalurkan, Kesiapan Logistik Hampir Rampung
Kushartono, Ketua Bidang Pendidikan Pesantren Jati Diri Bangsa, menyampaikan bahwa doa dapat menjadi bentuk diplomasi spiritual di tengah dinamika global.
“Melalui doa bersama, kita berharap hati para pemimpin dunia menjadi lebih terbuka, dari konflik menuju perdamaian. Ini adalah ikhtiar batin dari Kediri untuk dunia,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya nilai “Atas Berkat Rahmat Allah Yang Maha Kuasa” dalam Pembukaan UUD 1945 sebagai landasan jati diri bangsa.
“Keunggulan Indonesia bukan hanya pada kekuatan fisik, tetapi pada kekuatan spiritual yang harus terus ditanamkan melalui pendidikan,” tambahnya.
Kegiatan ini melibatkan berbagai organisasi dan komunitas, seperti Persaudaraan Cinta Tanah Air Indonesia, Pesantren Jati Diri Bangsa, Jam’iyah Kautsaran Putri Haajarulloh Shiddiqiyyah, serta komunitas lintas budaya dan spiritual lainnya.
Selain doa bersama, acara juga diisi dengan santunan bagi anak yatim dan dhuafa, serta selamatan sebagai bentuk kepedulian sosial.
Panitia berharap kegiatan ini tidak berhenti sebagai agenda seremonial, melainkan berkembang menjadi gerakan berkelanjutan dalam membangun kesadaran akan pentingnya pendidikan karakter dan perdamaian dunia.
“Kami ingin dari Kediri lahir kesadaran bahwa pendidikan bukan hanya soal intelektual, tetapi juga membentuk jiwa yang menjunjung tinggi perdamaian,” tutup Suhardono.
Melalui momentum Hardiknas ini, Ndalem Pojok kembali menegaskan fungsinya bukan hanya sebagai situs sejarah, tetapi juga sebagai ruang refleksi dan inspirasi dalam menumbuhkan nilai-nilai kemanusiaan universal menuju dunia yang lebih damai.***
Reporter : Bakti Wijayanto
Editor : Hadiyin





