Blitar, LINGKARWILIS.COM – Memasuki masa peralihan musim dari hujan ke kemarau, UPT Puskesmas Sananwetan Kota Blitar melakukan survei reseptivitas malaria di tujuh kelurahan. Langkah ini bertujuan untuk mendeteksi keberadaan larva nyamuk Anopheles, vektor utama penyebab malaria, guna mencegah potensi penyebaran penyakit.
Kepala Puskesmas Sananwetan, Siti Julaikah, mengungkapkan bahwa survei tersebut rutin dilakukan saat pancaroba karena saat itulah nyamuk cenderung aktif berkembang biak. Survei ini turut melibatkan kader kesehatan dari masing-masing wilayah kelurahan.
“Survei ini menjadi upaya antisipasi dini terhadap potensi munculnya nyamuk malaria yang bisa mengancam kesehatan warga,” jelasnya, Minggu (20/7/2025).
Proses survei dilakukan secara langsung ke lapangan dengan memetakan lokasi-lokasi rawan, seperti kolam tidak terpakai, genangan air di sekitar rumah, maupun tempat penampungan air lainnya. Dari hasil pengecekan, ditemukan indikasi larva Anopheles di empat kelurahan, yakni Karangtengah, Klampok, Sananwetan, dan Gedog.
“Empat kelurahan ini menunjukkan adanya larva positif. Maka kami segera melakukan tindak lanjut,” ujarnya.
Sebagai langkah penanganan awal, pihak puskesmas melakukan penyebaran bubuk abate di titik-titik genangan air yang terindikasi. Selain itu, dalam waktu dekat akan digelar lokakarya mini lintas sektor (minlok) untuk memperkuat kolaborasi antarinstansi dan masyarakat dalam menekan risiko penyebaran malaria.
“Upaya ini tidak bisa dilakukan sendiri. Dibutuhkan partisipasi aktif masyarakat agar rantai penyebaran nyamuk bisa diputus sejak dini,” tambahnya.
Guna memperluas jangkauan pencegahan, Puskesmas Sananwetan juga mendorong program Satu Rumah Satu Juru Pembasmi Jentik (Jumantik). Strategi ini diharapkan mampu menciptakan ketahanan keluarga terhadap ancaman malaria melalui peran aktif warga dalam menjaga kebersihan lingkungan.
Baca juga : Ratusan Pusaka Termasuk Keris dan Tombak Bung Karno Dijamas di Situs Persada Kediri
Sebagai informasi, berdasarkan catatan tahun 2023, terdapat delapan kasus malaria yang ditangani rumah sakit di Kota Blitar. Meski demikian, seluruh pasien tersebut diketahui berasal dari luar daerah, khususnya Papua—yang memang dikenal sebagai wilayah endemis malaria.***
Reporter : Aziz Wahyudi
Editor : Hadiyin





