KEDIRI, LINGKARWILIS.COM – Kesenian Reog tidak hanya bisa ditemukan di Ponorogo tetapi juga ada di Kediri meski dengan model dan bentuk yang beda. Tempatnya di Kelurahan Mrian Kecamatan Mojoroto. Reog Mrican tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga menjadi media pembentukan karakter generasi muda.
Nilai inilah yang terus dijaga Komunitas Reog Mrican yang hingga kini tetap eksis meski berjalan tanpa sokongan bantuan pemerintah.
Ketua Komunitas Reog Mrican, Galih Aprianto Permana, menjelaskan bahwa Reog memiliki akar sejarah dan filosofi kuat yang bersumber dari kisah Dewi Songgolangit dengan tokoh sentral Klono Sewandono, Raja Ponorogo.
Dalam cerita tersebut, sosok Bujang Ganong digambarkan sebagai patih sekaligus panglima yang cerdas, berani, dan lincah menghadapi berbagai rintangan.
“Bujang Ganong bukan sekadar tokoh jenaka. Ia melambangkan kecerdikan, keberanian, serta kegigihan dalam menghadapi tantangan,” kata Galih.
Baca juga : Cegah Konvoi dan Live TikTok di Jalan, Satlantas Polres Kediri Kota Gelar Jumat Gaul di Sekolah
Komunitas Reog Mrican berdiri sejak 2018, berawal dari keresahan terhadap maraknya kenakalan remaja di lingkungan sekitar. Melalui pendekatan seni tradisional, Galih mengajak para pemuda setempat untuk terlibat dalam aktivitas yang lebih positif dan produktif.
“Dulu wilayah sini cukup lekat dengan kenakalan remaja. Dari situ saya mengajak teman-teman berkumpul, seminggu sekali atau dua minggu sekali, untuk berproses lewat kesenian Reog,” ujarnya.
Anggota komunitas berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari pelajar hingga pekerja. Namun, tantangan terbesar yang dihadapi adalah menyatukan waktu latihan di tengah kesibukan masing-masing.
“Sering berbenturan dengan jam kerja, sekolah, atau ulangan. Itu yang paling sering jadi kendala,” ungkapnya.
Selama hampir tujuh tahun berjalan, Galih mengaku belum pernah menerima bantuan dari pemerintah, baik tingkat kelurahan, kecamatan, maupun kota. Seluruh kebutuhan komunitas dipenuhi secara mandiri dengan cara menabung dan mencicil peralatan.
baca juga : Kasus PMK dan LSD di Kediri Melandai, 91 Ekor Sapi Dinyatakan Sembuh
“Gong, kendang, kenong kami beli pelan-pelan. Dadak merak baru ada kepalanya, rangkanya belum,” katanya.
Untuk kostum pementasan, sebagian besar dibuat sendiri. Komunitas ini juga pernah mendapat bantuan mesin jahit dari Pujiono, yang kini dimanfaatkan untuk belajar membuat celana dan rompi Reog secara mandiri.
Saat ini, jumlah anggota aktif sekitar 15 orang. Jumlah personel pementasan disesuaikan dengan skala acara atau tanggapan yang diterima.
Di balik konsistensinya menghidupkan kesenian tradisional, Galih yang sehari-hari bekerja sebagai guru honorer di SDN Lirboyo II Kota Kediri menyimpan harapan besar terhadap masa depan Reog di Kota Kediri.
“Harapan kami, Reog di Kota Kediri, khususnya di Mrican dan sekitarnya, tidak dipandang sebelah mata. Kami ingin ada pendampingan dan pembinaan agar kesenian lokal bisa terus berkembang,” pungkasnya.
Keberadaan Komunitas Reog Mrican menjadi bukti bahwa seni tradisi mampu menjadi benteng moral sekaligus ruang ekspresi positif bagi generasi muda, meski tumbuh di tengah keterbatasan dan minim perhatian.***
Reporter : Agus Sulistyo
Editor: Hadiyin





