LINGKARWILIS.COM – Jenazah Een Jumianti seorang mahasiswi Fakultas Pertanian Universitas Trunojoyo Madura (UTM) yang dibunuh oleh kekasihnya, akhirnya tiba di rumah duka pada Senin malam (2/12). Kepergian
Jenazah Een tiba di rumah duka pada pukul 21.15 WIB yang berlokasi di Desa Purworejo, Kecamatan Ngunut, Tulungagung.
Kabar mengenai kematian Een mengejutkan warga setempat termasuk Kepala Desa Purworejo, Sudarto yang mendapat informasi mengenai warganya yang menjadi korban pembunuhan di Kabupaten Bangkalan, Madura.
Setelah menerima kabar tersebut, pihak desa langsung berkoordinasi dengan Rektor UTM untuk mengurus pemulangan jenazah korban.
Pelajar di Tulungagung Tewas Ditabrak Truk, Polisi Buru Pengemudi yang Melarikan Diri
Sudarto juga mengatakan bahwa pihak keluarga telah memberikan izin untuk menyelesaikan urusan di Bangkalan dan meminta dibentuknya Satgas untuk menangani kasus ini agar pelaku dihukum setimpal.
Sudarto menyebutkan pelaku saat ini masih dikenakan pasal 338 KUHP dengan ancaman hukuman 15 tahun, dan kemungkinan dikenakan Pasal 340 KUHP dengan ancaman hukuman lebih berat. Keluarga berharap pihak berwenang dapat memberikan hukuman yang adil.
Menurut penuturan Sudarto, Een sebenarnya baru beberapa waktu tinggal di Desa Purworejo. Sejak kecil, Een tinggal bersama orang tuanya di Tanjung Balai Karimun, Provinsi Kepulauan Riau hingga lulus SMA.
KA BIAS Madiun-Solo Dapat Respons Positif, Layani 1.400 Penumpang dalam Sepekan
Setelah lulus, Een melanjutkan pendidikan di UTM, Madura dan kembali ke Tulungagung untuk mengurus identitas KTP karena kakeknya yang sakit. Sejak saat itu, Een tinggal di Tulungagung bersama kedua orang tuanya, meskipun ibunya bekerja di Jakarta dan ayahnya mengurus lahan pertanian di Tulungagung.
Sudarto mengungkapkan proses kepulangan Een berjalan lancar, setelah pihak kepolisian melakukan otopsi terhadap jenazah.
Jenazah Een berangkat dari Madura sekitar pukul 16.00 WIB dan tiba di rumah duka pada pukul 21.15 WIB. Keluarga menyambut kedatangan jenazah dengan isak tangis, terutama karena Een merupakan satu-satunya harapan orang tuanya. Kedua orang tuanya bekerja keras agar Een bisa menempuh pendidikan tinggi dan meraih kesuksesan di masa depan.
Jenazah Een dimakamkan di pemakaman umum Pati, Desa Purworejo, pada malam yang sama. Ibu Een diketahui masih dalam perjalanan pulang dari Jakarta.
