Kayuhan Terakhir di Simpang Kertosono, Keteguhan Dua Tukang Becak di Tengah Laju Zaman

Kayuhan Terakhir di Simpang Kertosono: Keteguhan Dua Tukang Becak di Tengah Laju Zaman
Tukang becak di Simpang Kertosono (Ade)

KERTOSONO, LINGKARWILIS.COM – Malam di Kertosono terasa dingin dan lengang. Di sudut Terminal Taman, sebuah becak terparkir diam, seperti peninggalan masa lalu yang enggan menyerah pada waktu. Di atasnya, Parmin (65) duduk termenung, menggaruk kepala usai mengantar tiga penumpang seharian.

Kertosono, persimpangan antara Nganjuk, Jombang, dan Kediri, adalah tempat di mana laju kereta cepat bersaing dengan kayuhan lambat becak-becak tua. Di titik inilah, dua lelaki sederhana masih berpegang pada tiga roda, mempertahankan harga diri di tengah derasnya arus modernitas.

Sejak tahun 1990-an, Parmin telah mengayuh ribuan kilometer dengan becaknya. Ia menjadi saksi perubahan zaman  ketika becak dulu disambut hangat para pedagang dan pemudik yang pulang ke kampung halaman.

“Dulu, becak ini rumah kedua saya. Di sinilah rezeki tumpah,” tuturnya lirih.

Baca juga : Polres Blitar Siapkan 65 Personel untuk Operasi Sikat Semeru 2025, Gelar Latihan Pra Operasi di Rupatama

Kini, becak itu lebih sering menjadi tempat istirahat. Parmin tak lagi mengejar uang semata, melainkan ketenangan hati. Setiap pagi, ia tetap menyeka debu di becaknya, meminyaki rantai, dan menatap joknya seolah menyiapkan kuda tua yang masih setia menunggu panggilan perjalanan berikutnya.

Berbeda dengan Parmin, Joko (45) memilih cara bertahan yang keras dan realistis. Ia sadar, menjadi tukang becak di era motor dan ojek daring bukan keputusan mudah. Namun ia menolak berhutang, apalagi mengemis.

“Orang bilang, kenapa tidak jual becak dan beli motor kredit? Saya takut riba. Takut tidak bisa bayar. Lebih baik kaki pegal, asal tidur saya nyenyak,” katanya tegas.

Siang hari, Joko menambal rezekinya dengan menjadi buruh angkut di pasar. Ia memanggul beras, mengangkut semen, lalu kembali ke becaknya menjelang maghrib, dengan tubuh basah oleh keringat dan debu.

Baca juga : PDAM Kota Kediri Gelar Forum Konsultasi Publik Guna Tingkatkan Standar Pelayanan Air Bersih

Parmin dan Joko adalah dua potret manusia yang tertinggal di tikungan kemajuan. Namun dari kayuhan mereka, tersimpan pesan sederhana: kerja keras dan kejujuran tak pernah lekang oleh waktu.

Di bawah lampu jalan Kertosono, becak mereka terus bergerak perlahan. Dan dari kejauhan, tiga roda itu tampak bukan sekadar alat transportasi, melainkan simbol keteguhan dua pria yang menolak menyerah pada arus zaman.***

Reporter : Ade Ryan Setiono

Editor : Hadiyin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *