Kediri, LINGKARWILIS.COM – Meski usia tak lagi muda, semangat Dwi Soetjipto tetap menyala. Mantan Kepala SKK Migas sekaligus eks Direktur Utama Pertamina ini sukses menyelesaikan lintasan menantang sejauh 82 kilometer dalam ajang sepeda Kediri Dholo KOM 2025, Minggu (20/7/2025).
Pagi itu, cuaca cerah menyambut ratusan pesepeda yang berkumpul di Simpang Lima Gumul (SLG), Kabupaten Kediri. Mereka bersiap mengayuh menuju Gerbang Kawasan Wisata Gunung Kelud.
Kesejukan udara dan panorama alam yang menawan turut menemani para peserta sepanjang perjalanan. Begitu pula yang dirasakan Dwi Soetjipto saat menghadapi rute menanjak menuju Air Terjun Dholo dan Gunung Kelud, termasuk titik finis yang berada di Cafe Prongos. Medan berat itu tidak membuatnya menyerah, justru menjadi ajang pembuktian diri yang membanggakan.
“Ini bukan soal berkompetisi dengan orang lain, melainkan melawan diri sendiri. Jalur tanjakan ini benar-benar ujian mental,” ujarnya.
Baca juga : Persik Kediri Kenalkan 30 Pemain untuk Super League 2025/2026 di Stadion Brawijaya
Salah satu tantangan terberat hadir di Kelok 9, kawasan Air Terjun Dholo, disusul tanjakan ekstrem yang dijuluki ‘gigi 1’ oleh para pesepeda—sebuah jalur nyaris menanjak 45 derajat yang memaksa sebagian peserta turun dari sadel. Meski demikian, Dwi terus mengayuh, menjaga irama napas dan konsisten dalam setiap tarikan pedal.
Sorakan semangat dari sesama peserta pun terdengar di sepanjang jalur. “Ayo Pak Dwi, semangat! Panutan!” teriak seorang pesepeda muda. Ia menjawab dengan senyuman dan putaran pedal yang tak putus.
Bagi Dwi, Dholo KOM bukan sekadar ajang balap sepeda. Ia melihatnya sebagai perayaan hidup—wujud rasa syukur atas tubuh yang masih kuat dan semangat yang tetap tumbuh di usia senja.
“Bersepeda bukan hanya soal fisik. Ini juga melatih mental. Kalau kita bisa disiplin di lintasan, kita bisa disiplin menjalani hidup,” tuturnya. Dulu ia memimpin perusahaan besar, kini ia memimpin dirinya sendiri menelusuri jalur-jalur sunyi di tengah alam.
Baca juga : Kediri Aquatic 2025, Ajang Silaturahmi dan Unjuk Prestasi Pembudidaya Lele Kediri Raya
“Saya tak mengejar kemenangan, tapi mencari versi terbaik dari diri saya. Yang dulunya sibuk di ruang rapat, kini menemukan ketenangan di tikungan gunung,” sambungnya.
Tak kurang dari 400 peserta dari berbagai daerah dan luar negeri memadati garis start. Dari atlet profesional hingga penghobi pemula, semuanya berbagi semangat dalam menaklukkan jalur menanjak yang menantang.
Namun, di antara ratusan kisah yang tercipta hari itu, perjalanan Dwi Soetjipto menjadi salah satu yang paling menginspirasi. Bukan karena kecepatan, melainkan karena konsistensi dan ketenangannya, yang terlihat dari setiap kayuhan dan sorotan matanya dari balik helm.
“Bukan tentang siapa yang tercepat, tapi siapa yang tidak menyerah,” ucap pria yang kini telah menginjak usia 70-an.
Ia menegaskan bahwa Dholo KOM adalah ruang kontemplatif, tempat para pengayuh menuliskan ulang makna hidup—kilometer demi kilometer.
“Saya ingin membuktikan bahwa usia hanya angka. Semangatlah yang menjaga kita tetap bergerak,” pungkasnya.***
Reporter: Rizky Rusdiyanto
Editor : Hadiyin





