Ponorogo, LINGKARWILIS.COM – Impian panjang seorang lansia asal Ponorogo akhirnya segera terwujud. Di usia 91 tahun, Siti Robiah dipastikan berangkat menunaikan ibadah haji pada musim 2026, menjadikannya jamaah calon haji tertua dari Kota Reyog tahun ini.
Perempuan yang tinggal di Dukuh Jatisari, Desa Prajegan, Kecamatan Sukorejo tersebut tak mampu menyembunyikan rasa harunya saat menerima kabar keberangkatan. Penantian panjang selama bertahun-tahun kini berbuah manis.
“Alhamdulillah, sangat senang. Sudah lama sekali menunggu,” ungkapnya.
Robiah dijadwalkan bertolak ke Tanah Suci pada 26 April 2026. Perjalanan menuju momen tersebut bukanlah hal singkat. Ia tercatat telah mendaftar sejak 15 Juli 2020 dan harus menunggu sekitar enam tahun hingga akhirnya mendapat panggilan berangkat.
Baca juga : Kediri Miliki Orkes Dangdut Bergaya Jadul
Selama proses tersebut, ia didampingi penuh oleh sang cucu, Binti Masruroh. Mulai dari pengurusan administrasi hingga persiapan keberangkatan, Binti selalu berada di samping neneknya.
Meski telah berusia lanjut, kondisi kesehatan Robiah relatif stabil. Ia hanya mengalami keluhan ringan seperti batuk dan pilek, namun secara umum masih dalam kondisi baik untuk menjalani perjalanan ibadah.
Binti juga menceritakan tantangan saat proses pendaftaran. Kondisi jari Robiah yang telah bengkok sempat menyulitkan perekaman sidik jari, bahkan membutuhkan waktu hampir satu jam hingga akhirnya berhasil.
“Saat itu saya mengusap jari nenek dengan minyak telon sambil berdoa agar dimudahkan,” kenangnya.
Di balik keberangkatannya, tersimpan kisah perjuangan hidup yang penuh keteguhan. Sejak ditinggal suaminya pada tahun 1979, Robiah harus berjuang sendiri menghidupi keluarga. Ia menjalani berbagai pekerjaan, mulai dari berjualan arang dengan berjalan kaki ke kota, menjajakan buah srikaya, hingga mencari kayu bakar.
Baca juga : Camat Mojoroto Instruksikan Gerakan “Joglangan” untuk Tekan Volume Sampah di Kota Kediri
Tak hanya itu, ia juga pernah bekerja sebagai buruh pabrik sekaligus bertani demi mencukupi kebutuhan hidup. Dari hasil kerja keras tersebut, sedikit demi sedikit ia berhasil mengumpulkan aset berupa tanah.
Tanah itulah yang kemudian dijual untuk membiayai impiannya menuju Tanah Suci. Awalnya, dana tersebut dipersiapkan untuk ibadah umrah, namun akhirnya cukup untuk mendaftar haji.
“Sejak muda memang pekerja keras, yang penting halal,” tutur Binti.
Kisah Siti Robiah menjadi bukti bahwa keterbatasan usia dan kondisi hidup tidak menjadi penghalang untuk meraih impian. Keteguhan, kesabaran, dan kerja keras menjadi kunci yang mengantarkannya menuju panggilan suci.***
Reporter : Sony Prasetyo
Editor : Hadiyin

