Daerah  

Leptospirosis Kembali Mewabah di Tulungagung, Dinkes Beri Peringatan!

Leptospirosis Kembali Mewabah di Tulungagung, Dinkes Beri Peringatan!
Kabid Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit (P2P), Dinas Kesehatan (Dinkes) Tulungagung, Desi Lusiana Wardani saat memberikan pernyataan terkait kasus leptospirosis (isal/Lingkar)

LINGKARWILIS.COM – Kasus leptospirosis kembali ditemukan di Kabupaten Tulungagung pada awal 2025 dengan tingkat kematian atau Case Fatality Rate (CFR) yang cukup tinggi dan mengkhawatirkan.

Kepala Bidang Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Tulungagung, Desi Lusiana Wardani, mengungkapkan bahwa hingga saat ini telah dilaporkan tiga kasus leptospirosis di wilayah tersebut. Ironisnya, seluruh pasien yang terinfeksi tidak dapat diselamatkan.

Berdasarkan data yang dimiliki, dua kasus terjadi pada Januari 2025, sementara satu kasus lainnya ditemukan pada Februari 2025. Ketiga pasien sempat mendapatkan perawatan di fasilitas kesehatan (faskes), namun saat tiba di layanan medis, kondisi mereka sudah masuk kategori zona merah leptospirosis.

“Saat ketiga korban ini dibawa ke Faskes, keadaan mereka sudah sangat parah, sehingga mereka tidak bisa tertangani dan akhirnya meregang nyawa,” kata Desi Lusiana Wardani, Selasa (25/3/2025).

5 Resep Menu Buka Puasa Nikmat dan Praktis, Mengenyangkan dan Segar Pol!

Menurut Desi, leptospirosis memiliki tingkat perkembangan penyakit yang sangat cepat, sehingga penanganan medis harus segera dilakukan begitu gejala muncul. Gejala awal penyakit ini mirip dengan demam biasa, sehingga sering kali tidak disadari oleh penderitanya. Namun, terdapat ciri khas yang membedakan, yakni perubahan warna kuning pada bola mata penderita.

“Kondisi pasien dengan leptospirosis itu sangat cepat memburuk, jadi harus cepat dibawa ke faskes dengan treatmen yang tepat agar bisa disembuhkan,” ungkapnya.

Dalam tiga kasus yang terjadi, para pasien awalnya telah mendapatkan pemeriksaan di puskesmas setempat. Mereka diminta menjalani medical check-up selama dua hari, tetapi baru kembali pada hari keempat. Sayangnya, saat kembali ke fasilitas kesehatan, kondisi mereka sudah memburuk sehingga harus segera dirujuk ke instalasi gawat darurat (IGD) dan masuk kategori zona merah. Keterlambatan ini menyebabkan pasien tidak dapat diselamatkan.

“Pada intinya penanganan ketiga korban kasus leptospirosis ini sudah sangat terlambat, apalagi obat dari puskesmas hanya bisa memperlambat sebaran penyakit,” jelasnya.

Demo Tolak UU TNI di Malang Ricuh, Gedung DPRD Dilempar Bom Molotov

Setelah kasus ini teridentifikasi, Dinas Kesehatan Tulungagung segera melakukan penyelidikan epidemiologi (PE). Hasilnya menunjukkan bahwa para korban merupakan pekerja di ladang dan berusia antara 50 hingga 60 tahun, yang meningkatkan risiko paparan leptospirosis, terutama dari hama tikus.

Untuk mencegah keterlambatan identifikasi kasus di masa mendatang, pihak Dinkes telah memberikan sosialisasi kepada puskesmas agar lebih cepat mengenali gejala leptospirosis. Selain itu, edukasi kepada masyarakat juga terus dilakukan agar warga lebih waspada dan segera mencari pertolongan medis jika mengalami gejala penyakit ini.

“Tingkat CFR untuk kasus leptospirosis di Tulungagung terpantau tinggi mencapai 66,67 persen. Kalau pengobatannya memang di Dinkes, tetapi untuk sosialisasi pencegahannya kami membutuhkan dinas pertanian karena melibatkan tikus sawah,” pungkasnya.

Reporter : Mochammad Sholeh Sirri
Editor : Shadinta Aulia Sanjaya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Ayahqqklik66klik66klik66ayahqqlonteqqklik66ayahqqhalubet76klik66klik66klik66klik66https://lingkarwilis.com/mail/https://dellacortevanvitelli.edu.it/argomento/https://dellacortevanvitelli.edu.it/argomento/albo-sindacale/https://www.medicallifesciences.org.uk/ckfiles/bandarqq/index.htmlhttps://kampungdigital.id/wp-includes/js/pkv-games/https://kampungdigital.id/wp-includes/js/bandarqq/https://kampungdigital.id/wp-includes/js/dominoqq/https://youthspaceinnovation.com/about/dominoqq/https://youthspaceinnovation.com/wp-includes/bandarqq/https://dutapendidikan.id/.private/pkv/https://dutapendidikan.id/.private/bandarqq/https://dutapendidikan.id/.private/dominoqq/https://ramanhospital.in/js/pkv-games/https://ramanhospital.in/js/bandarqq/https://ramanhospital.in/js/dominoqq/https://sunatrokifun.com/wp-includes/pkv-games/https://sunatrokifun.com/wp-includes/bandarqq/https://sunatrokifun.com/wp-includes/dominoqq/https://inl.co.id/themes/pkvgames/https://inl.co.id/themes/bandarqq/https://inl.co.id/themes/dominoqq/https://vyrclothing.com/https://umbi.edu/visit/https://newtonindonesia.co.id/pkv-games/https://newtonindonesia.co.id/bandarqq/https://newtonindonesia.co.id/dominoqq/https://dkpbuteng.com/dock/pkv-games/https://dkpbuteng.com/dock/bandarqq/https://dkpbuteng.com/dock/dominoqq/https://tamanzakat.org/wp-includes/pkv/https://tamanzakat.org/wp-includes/bandarqq/https://tamanzakat.org/wp-includes/dominoqq/https://rsiaadina.com/rs/pkv-games/https://rsiaadina.com/rs/bandarqq/https://rsiaadina.com/rs/dominoqq/https://cheersport.at/doc/pkv-games/SLOT4DSLOT4D