JOMBANG, LINGKARWILIS.COM – Inovasi pemanfaatan limbah industri penetasan telur atau hatchery membawa dampak positif bagi perkembangan usaha budi daya lele di Desa Temuwulan, Kecamatan Perak, Kabupaten Jombang.
Limbah yang sebelumnya tidak dimanfaatkan secara optimal kini diolah menjadi pakan alternatif untuk ikan lele. Penerapan konsep ekonomi sirkular tersebut turut mendorong perkembangan sektor perikanan di wilayah setempat, dengan total produksi diperkirakan mencapai 80 ton setiap bulan.
Tak hanya meningkatkan produktivitas, aktivitas budi daya ini juga membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar. Bahkan, usaha yang dikelola salah satu pembudi daya telah mampu mempekerjakan sekitar 50 orang.
Heri Purnomo, penggerak usaha budi daya lele sekaligus bagian dari Petani Ikan Air Tawar Nusantara (Pekantara), menjelaskan bahwa pemanfaatan limbah tersebut berawal dari keberadaan pabrik penetasan telur di desa tetangga.
Baca juga : PPN Pembalut Efektif 11 Persen Disorot WCC Jombang, Dinilai Tambah Beban Ekonomi Perempuan
Melihat adanya potensi bahan yang bisa dimanfaatkan kembali, sejumlah pelaku usaha mulai mengolah limbah telur dari pabrik tersebut sebagai tambahan pakan ikan lele.
“Awalnya ada limbah dari hatchery yang bisa kita manfaatkan sebagai pakan tambahan. Dulu limbah telur itu dimanfaatkan oleh daerah lain. Kemudian ada pelaku usaha yang mulai memanfaatkannya untuk budi daya lele. Dari situ akhirnya berlanjut sampai sekarang,” kata Heri saat ditemui di area kolam miliknya, Kamis (5/11/2026).
Menurutnya, konsep pemanfaatan kembali tidak berhenti pada limbah industri penetasan telur. Berbagai hasil samping dari kegiatan budi daya lele juga diupayakan memiliki nilai guna sehingga tidak terbuang begitu saja.
Air bekas kolam, misalnya, dialirkan untuk membantu kebutuhan pertanian dan mendukung pertumbuhan tanaman. Sementara ikan berukuran besar dapat diolah menjadi bahan baku produk fillet.
Adapun cairan telur dari limbah hatchery dimanfaatkan sebagai bahan pakan alternatif, sedangkan cangkangnya dapat diolah menjadi pupuk.
Baca juga : Puting Beliung Terjang Kepung Kediri, 20 Rumah Warga Mengalami Kerusakan
“Alhamdulillah, dalam usaha lele ini sepertinya tidak ada yang terbuang. Limbah air kolam kita manfaatkan untuk pertumbuhan tanaman dan pertanian. Ikan yang ukurannya besar bisa masuk ke produk fillet. Cairan telur kita manfaatkan sebagai pakan alternatif, sedangkan cangkangnya untuk pupuk,” ungkapnya.
Selain menerapkan pemanfaatan limbah, para pembudi daya di kawasan tersebut juga mulai mengadopsi teknologi untuk meningkatkan efisiensi produksi.
Salah satunya dengan menggunakan sistem Recirculating Aquaculture System (RAS), yakni metode budi daya yang mengandalkan sirkulasi dan pengolahan air agar dapat digunakan kembali. Penerapan sistem ini membantu mengoptimalkan penggunaan air dalam kegiatan pemeliharaan ikan.
Perkembangan usaha Heri sendiri terbilang cukup pesat. Dari awalnya hanya mengelola satu kolam, kini ia telah memiliki sekitar 150 kolam lele yang berdiri di atas lahan seluas 2.800 meter persegi.
Pengelolaan ratusan kolam tersebut melibatkan sejumlah karyawan untuk menunjang kegiatan operasional sehari-hari. Ke depan, ia masih berencana memperluas kapasitas usaha.
“Insyaallah akan kami tambah lagi,” imbuhnya.
Secara keseluruhan, aktivitas budi daya lele di Desa Temuwulan dan wilayah sekitarnya diperkirakan menghasilkan sekitar 80 ton ikan setiap bulan.
Perkembangan tersebut juga memberikan dampak ekonomi bagi warga setempat. Usaha yang dijalankan Heri telah menyerap sekitar 50 tenaga kerja. Selain itu, semakin banyak masyarakat yang tertarik mengikuti jejaknya dengan membangun kolam budi daya secara mandiri.
Dalam kurun waktu sekitar sepuluh tahun terakhir, perkembangan usaha perikanan di kawasan tersebut dinilai membawa perubahan cukup besar bagi perekonomian desa.
“Alhamdulillah, dalam kurun waktu sekitar sepuluh tahun ini sudah banyak perubahan signifikan di sekitar Desa Temuwulan. Kami bisa menyerap tenaga kerja lumayan banyak. Warga sekitar juga mulai bermunculan dengan usaha budi daya mandiri, ada yang punya tiga kolam, lima kolam, sampai sepuluh kolam,” terangnya.
Di balik perkembangan tersebut, Heri melihat potensi bisnis perikanan lele di Kabupaten Jombang masih memiliki ruang besar untuk dikembangkan.
Menurutnya, peluang tidak hanya berada pada penjualan ikan konsumsi, tetapi juga pengolahan produk turunan seperti fillet lele dan makanan beku atau frozen food.
Keberadaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) juga dinilai dapat membuka peluang pasar baru bagi produk olahan ikan apabila mampu memenuhi kebutuhan dan standar yang ditetapkan.
Meski demikian, para pembudi daya masih menghadapi persoalan biaya produksi, terutama akibat kenaikan harga pakan pabrikan yang tidak diikuti peningkatan harga jual lele secara seimbang.
Kondisi tersebut membuat perhitungan usaha semakin berat. Apabila seluruh kebutuhan pakan masih bergantung pada produk pabrikan, biaya produksi dinilai sulit tertutup oleh pendapatan dari penjualan hasil panen.
“Permasalahan yang sedang kita hadapi sekarang adalah kenaikan harga pakan yang tidak relevan dengan kenaikan harga ikan. Kalau menggunakan dasar harga pakan pabrikan, hitungannya jelas tidak menutup biaya produksi,” pungkas Heri.
Pemanfaatan limbah hatchery menjadi pakan alternatif pun menjadi salah satu upaya untuk menekan ketergantungan terhadap pakan pabrikan.
Inovasi yang berkembang di Temuwulan ini sekaligus memperlihatkan bahwa sektor perikanan tidak hanya berpotensi menghasilkan produk pangan, tetapi juga mampu menciptakan ekosistem ekonomi yang saling terhubung antara industri, pertanian, dan masyarakat.***
Reporter: Taufiqur Rachman
Editor : Hadiyin
