Peristiwa tragis ini bermula ketika MKKA ditemukan bermain di jam salat Dhuha oleh seorang guru. Oknum guru tersebut marah dan melemparkan sepotong kayu yang ada pakunya, yang akhirnya mengenai kepala MKKA dan menyebabkan luka parah.
“Saya kasihan dengan anaknya. Dia anak yang ceria dan sudah lama ingin mondok di sana. Bahkan adiknya juga ingin mengikuti jejaknya,” ujar Ikhwal Ricky, paman korban, Jumat (27/9/2024).
Baca juga : Paslon Ferry Silviana dan Regina (FREN) Silaturahmi ke Kantor PCNU Kota Kediri, Sampaikan Visi-Misi Pembangunan Lima Tahun ke Depan
MKKA adalah anak sulung dari dua bersaudara. Adiknya masih duduk di bangku sekolah dasar, sementara MKKA sendiri harus hidup terpisah dari ibunya yang bekerja di Taiwan. Kedua orang tua MKKA telah berpisah, dan MKKA diasuh oleh neneknya.
Meskipun jauh dari ibu kandungnya, sang ibu kerap berkomunikasi melalui telepon, sementara ayah sambung MKKA, yang tinggal di Desa Wonorejo, rutin menjenguknya setiap minggu.
“Meski bukan ayah kandungnya, bapak sambungnya selalu menyempatkan waktu untuk menengok dan memberi kasih sayang,” tambah Ikhwal.
Sang ibu, yang bekerja keras di Taiwan untuk menghidupi anak-anaknya, segera berencana pulang setelah mendengar berita tragis ini.
“Jauh-jauh mencari uang, tapi malah begini. Rasanya sangat menyakitkan,” ungkap Ikhwal dengan haru.
Baca juga : Diduga Cabuli Murid SD, Penjual Condong Asal Kediri Diringkus Polisi
Peristiwa kekerasan ini terjadi di lingkungan sekolah sekitar seminggu yang lalu. Setelah kejadian tersebut, pihak kepolisian segera bergerak menyelidiki dan meminta keterangan dari sejumlah saksi, termasuk guru, pengurus sekolah, dan keluarga korban.
“Kami masih menunggu laporan resmi dari keluarga korban,” kata Kepala Seksi Humas Polres Blitar Kota, Iptu Samsul Anwar.
Korban, MKKA, diketahui berasal dari Desa Dadaplangu, Kecamatan Ponggok, Kabupaten Blitar, sementara guru yang diduga melakukan kekerasan berinisial U, mengajar di MTs swasta di Desa Bacem.
Menurut penjelasan, kekerasan ini terjadi ketika guru tersebut mendapati MKKA sedang bermain badminton saat seharusnya melaksanakan salat dhuha. Guru yang emosi melemparkan kayu, yang ada pakunya dan mengenai kepala korban.
Korban sempat dilarikan ke RSUD Srengat, namun kondisinya terlalu parah, hingga akhirnya dirujuk ke RSUD Kabupaten Kediri. Sayangnya, nyawa MKKA tak dapat diselamatkan dan ia meninggal dunia.***
Reporter: Aziz Wahyudi
Editor: Hadiyin