LAMONGAN, LINGKARWILIS.COM – Bupati Lamongan Yuhronur Efendi turun langsung ke areal persawahan untuk memimpin panen padi program Demplot Pertanian Modern Advantage Agricultural System (PM-AAS), Rabu (12/8/2026).
Kegiatan tersebut menjadi momentum bagi Bupati Lamongan untuk melihat secara langsung hasil penerapan teknologi pertanian modern sekaligus memperkuat komitmen pemerintah daerah dalam mendorong peningkatan produktivitas pertanian.
Program demplot tersebut merupakan hasil kolaborasi Dinas Pertanian Kabupaten Lamongan, PT NPK, dan PT Maxxi. Sinergi dilakukan sejak persiapan lahan, penanaman, perawatan, hingga pendampingan teknis menjelang panen.
Ada pemandangan menarik dalam kegiatan tersebut. Bupati yang akrab disapa Pak Yes itu tampak mengendarai sepeda motor yang biasa digunakan petani sebagai ojek gabah untuk mengangkut karung hasil panen melewati pematang sawah.
Baca juga : PG Meritjan Kediri Jadi Titik Konsolidasi SGN, Dorong Produktivitas dan Revolusi 888
Dengan membawa karung padi dan menyusuri areal persawahan, Pak Yes menunjukkan kedekatannya dengan para petani sekaligus melihat langsung proses pengangkutan hasil panen dari lahan.
Selain sebagai bentuk apresiasi terhadap perjuangan petani, kegiatan tersebut juga dimanfaatkan untuk mengevaluasi hasil penerapan teknologi pertanian modern melalui program Demplot PM-AAS.
Dalam program tersebut, petani menggunakan varietas benih unggul Cakra Buana yang dipadukan dengan pola pendampingan serta pengolahan lahan secara modern dan presisi.
Hasilnya cukup menggembirakan. Berdasarkan pengujian ubinan yang dilakukan sebelum panen, produktivitas lahan demplot tercatat mencapai 9,92 ton per hektare.
“Saya berada di lokasi panen dari program demplot PM-AAS yang menggunakan benih Cakra Buana. Alhamdulillah, sebagaimana yang kita saksikan, hasilnya cukup memuaskan. Dari ubinan kemarin terlihat bahwa hasilnya mencapai 9,92 ton per hektare. Artinya ini melebihi dari harapan kita,” ujar Pak Yes.
Baca juga : DPRD Kabupaten Kediri Gelar Paripurna, Bahas Persetujuan Dua Raperda
Menurutnya, capaian tersebut lebih tinggi dibandingkan lahan persawahan di sekitar lokasi yang belum menggunakan varietas Cakra Buana maupun sistem pendampingan PM-AAS. Lahan tersebut rata-rata menghasilkan kurang dari 7 ton per hektare.
“Sebelah yang tidak menggunakan Cakra Buana dan sistem PM-AAS hasilnya di bawah, yakni 7 koma sekian. Nah, untuk itu, ini cukup efektif untuk diterapkan di lapangan,” katanya.
Pak Yes menegaskan, keberhasilan demplot tidak terlepas dari kolaborasi berbagai pihak. Pemkab Lamongan melalui Dinas Pertanian bersama PT NPK dan PT Maxxi melakukan pendampingan mulai tahap awal hingga panen.
“Ini tentu atas kerja sama dari PT NPK, Dinas Pertanian Kabupaten Lamongan, dan juga PT Maxxi yang dari awal ikut mengawal di demplot ini. Sukses untuk pertanian kita,” tegasnya.***
Reporter: Suprapto
Editor : Hadiyin





