Nganjuk, LINGKARWILIS.COM – Kesedihan melanda para petani di Dusun Barengan, Desa Kaloran, Kecamatan Ngronggot. Padi yang seharusnya siap dipanen dalam beberapa hari ke depan justru roboh akibat hujan deras dan angin kencang yang melanda wilayah tersebut.
Pringgo, salah satu petani setempat, hanya bisa pasrah melihat tanaman padinya ambruk hampir seluruhnya.
“Puluhan tahun bertani, baru kali ini mengalami kerusakan separah ini,” ujarnya, Minggu (9/3/2025).
Banyak petani lain juga menghadapi ancaman gagal panen. Jika tetap dipanen, hasil yang diperoleh dipastikan tidak mampu menutup biaya produksi yang ditaksir mencapai Rp15 juta.
Baca juga : Efisiensi Anggaran, Perbaikan Jalan di Kabupaten Kediri Tahun 2025 Hanya Rp 35 Miliar
Kondisi ini diperburuk oleh penurunan kualitas gabah, yang membuat harga jualnya merosot jauh dari harga pasar.
“Kalau begini, saya tidak dapat apa-apa. Biaya produksinya lebih tinggi dibanding hasil panennya,” keluhnya.
Selain itu, biaya panen juga membengkak. Dalam kondisi normal, petani hanya membutuhkan sekitar Rp2 juta untuk memanen setengah hektare sawah menggunakan mesin. Namun, karena padi roboh, panen harus dilakukan secara manual, sehingga biaya bisa meningkat hingga dua kali lipat.
Baca juga : Warga Binaan Lapas Blitar Melahirkan Bayi Kembar, Identitas Ayah Tak Diketahui, Kini Diadopsi
Para petani berharap pemerintah memberikan solusi, terutama dalam kemudahan akses pupuk dan obat-obatan pertanian, agar tanaman lebih tahan terhadap perubahan cuaca.
Mereka juga meminta Bulog untuk membeli gabah dengan harga minimal Rp6.600 per kilogram, sehingga mereka masih bisa memperoleh keuntungan.
Jika situasi ini terus berlanjut tanpa perhatian dari pemerintah, petani khawatir sektor pertanian di daerah mereka semakin terpuruk.***
Reporter : Inna Dewi Fatimah
Editor :





