BLITAR, LINGKARWILIS.COM –Minat kaum pria di Kabupaten Blitar untuk mengikuti program Keluarga Berencana (KB) melalui metode vasektomi atau Metode Operasi Pria (MOP) masih tergolong rendah. Salah satu alasan utama yang mengemuka adalah kekhawatiran akan berkurangnya kenikmatan seksual dan penurunan kejantanan, meski hal tersebut tidak sepenuhnya benar.
Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kabupaten Blitar, Mikhael Hankam Indoro, menyebutkan bahwa sepanjang Januari hingga April 2025, hanya 12 pria yang tercatat menjadi peserta MOP.
“Angka ini sebenarnya sudah melampaui target tahunan kami yang sebanyak 10 orang, namun secara keseluruhan masih jauh dari harapan mengingat jumlah pria usia subur di Kabupaten Blitar sangat besar,” jelasnya, Senin (19/5/2025).
Baca juga : Sempat Unggul, Persik Kediri Hanya Raih Hasil Imbang Kontra Semen Padang
Mikhael menegaskan bahwa persepsi negatif masyarakat menjadi tantangan tersendiri dalam mendorong KB pria. Banyak yang masih meyakini bahwa vasektomi berdampak buruk terhadap performa seksual. Padahal secara medis, prosedur vasektomi hanya memutus saluran sperma dari testis dan tidak mengurangi gairah, kenikmatan, maupun fungsi seksual pria.
“Tidak sedikit yang masih berpikir bahwa KB itu urusan perempuan. Padahal pria juga punya peran. Vasektomi itu aman dan efektif,” katanya.
Ia menambahkan bahwa peserta MOP yang sudah menjalani prosedur pun tidak pernah mengeluhkan masalah terkait kesehatan atau kehidupan seksual mereka. Prosedur dilakukan oleh tenaga profesional dengan standar medis yang aman.
Baca juga : Dinkes Kabupaten Kediri Imbau Warga Lakukan Vaksin Booster Setahun Sekali
Untuk meningkatkan partisipasi pria dalam program KB, DP3AP2KB akan menggencarkan sosialisasi secara menyeluruh ke masyarakat. Langkah tersebut akan melibatkan tokoh masyarakat dan para pria yang telah menjalani vasektomi sebagai narasumber untuk memberi testimoni langsung.
“Kami akan turun ke lapangan, hadir di tengah masyarakat, dan berikan pemahaman yang benar. Dukungan dari tokoh masyarakat juga sangat penting untuk mengikis stigma,” pungkas Mikhael.***
Reporter : Aziz Wahyudi
Editor : Hadiyin





