Trenggalek, LINGKARWILIS.COM – Untuk mengantisipasi bencana tanah gerak seperti yang terjadi di Dusun Depok, Desa Ngrandu, Kecamatan Suruh, Pemkab Trenggalek merencanakan program penanaman pohon berakar kuat di lahan gembur pada area pegunungan. Bencana tanah gerak tersebut sebelumnya menyebabkan kerusakan pada 38 rumah dan memaksa 119 warga mengungsi.
Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin, atau akrab disapa Mas Ipin, menegaskan pentingnya menanam pohon berakar kuat di daerah pegunungan meskipun kawasan tersebut padat penduduk.

“Lahan pegunungan yang gembur harus ditanami pohon-pohon besar berakar kuat, meski berupa tanaman produktif. Akar pohon besar ini berfungsi sebagai pengikat tanah, mencegah pergerakan tanah,” ujar Mas Ipin.
Baca juga : Perkim Kabupaten Kediri Tambah 55 PJU Jelang Natal dan Tahun Baru
Mas Ipin mengungkapkan, banyaknya kasus tanah gerak di Trenggalek dipicu oleh alih fungsi lahan di kawasan dataran tinggi. Lahan yang dulunya ditumbuhi pohon-pohon besar kini didominasi tanaman berakar lemah yang dipilih karena nilai ekonominya.
“Wilayah yang masih ditanami pohon besar relatif aman. Sedangkan lahan yang longsor biasanya sudah dialihfungsikan menjadi lahan pertanian dengan tanaman yang akarnya kurang kuat. Ini bukan sepenuhnya salah masyarakat, tapi perlu ada keseimbangan antara kebutuhan ekonomi dan upaya menjaga lingkungan,” tambahnya.
Selain memberikan manfaat ekonomi melalui hasil buah, pohon-pohon produktif berakar kuat juga berfungsi sebagai benteng alami untuk mencegah tanah gerak. Bupati meminta masyarakat di kawasan pegunungan menjaga pohon-pohon tegakan yang ada dan melaporkan area rawan tanah gerak ke pemerintah.
Baca juga : Klinik Psikiatri RSUD Gambiran Kediri, Solusi Bagi Kesehatan Jiwa Masyarakat
“Kami siap membantu dengan menyediakan bibit pohon kayu produktif. Desa-desa juga diminta segera melakukan asesmen wilayah rawan agar bisa kami tindak lanjuti dengan program penanaman,” imbuhnya.
Sebelumnya, bencana tanah gerak di Desa Ngrandu menyebabkan 119 warga dari 43 kepala keluarga terpaksa mengungsi. Selain kerusakan pada rumah warga, akses jalan di lokasi tersebut terputus.
Langkah strategis ini diharapkan mampu mencegah bencana serupa di masa depan dan menciptakan lingkungan yang lebih aman bagi masyarakat yang tinggal di wilayah pegunungan. ***
Reporter : Angga Prsetya
Editor : Hadiyin





