Kediri, LINGKARWILIS.COM – Sebanyak 600 peserta dari berbagai daerah di Indonesia mengikuti Pelatihan Ketahanan Pangan secara gratis yang diselenggarakan oleh Pesantren Jati Diri Bangsa Indonesia Merajut Perdamaian Nusantara. Kegiatan ini berlangsung di Situs Persada Soekarno, Ndalem Pojok, Dusun Krapak, Desa Pojok, Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri.
Pelatihan ini mencakup berbagai aspek ketahanan pangan, mulai dari budidaya sayuran, beternak ayam, hingga perikanan. Program ini diadakan sebagai bagian dari semangat kesadaran berbangsa dan bernegara, dengan tujuan menumbuhkan kepedulian masyarakat terhadap ketahanan pangan nasional.
Ketua Pesantren Kus Hardono menegaskan bahwa kesadaran berbangsa dan bernegara harus diwujudkan dalam tindakan nyata, salah satunya melalui partisipasi dalam program ketahanan pangan.
Bacajuga : SMKN 3 Kota Kediri Siapkan Lulusan Kompetitif di Dunia Industri dan Wirausaha
“Sejak awal, tujuan utama pesantren kebangsaan ini adalah menumbuhkan kesadaran berbangsa dan bernegara. Kesadaran ini harus memiliki bentuk nyata, salah satunya melalui kepedulian terhadap bangsa dan negara,” ujarnya.
Menurut Kus, meskipun pemerintah tengah menggalakkan program ketahanan pangan, respons masyarakat masih kurang antusias. Ia menduga hal ini terjadi karena minimnya anggaran atau belum ada dana yang dialokasikan untuk mendukung program tersebut.
“Di sinilah kesadaran kita diuji. Apakah kita mau menjalankan Program Ketahanan Pangan tanpa menunggu bantuan anggaran pemerintah? Jika bisa dilakukan secara gotong royong, ini merupakan bukti nyata tumbuhnya kesadaran berbangsa dan bernegara,” tambahnya.
Baca juga : SMKN 3 Kota Kediri Siapkan Lulusan Kompetitif di Dunia Industri dan Wirausaha
Salah satu santri, Ahmad Winarto, mengungkapkan bahwa pesantren telah menjalankan program ketahanan pangan selama enam bulan terakhir, mencakup penanaman sayuran organik, budidaya ikan, serta peternakan ayam.
Para peserta dari berbagai daerah juga mengaku mendapat banyak manfaat dari pelatihan ini. Jatmikowati, peserta asal Sidoarjo dari komunitas JKPHS, menyatakan rasa puasnya mengikuti pelatihan ini.
“Alhamdulillah, kami sangat senang dan puas dengan pelatihan ini. Saat ini sudah memasuki gelombang kelima dengan peserta sekitar 140 orang. Jika ditotal sejak gelombang pertama, jumlah peserta sudah lebih dari 600 orang,” tuturnya.
Kus Hardono juga menekankan pentingnya kesadaran bernegara dengan mengingat perjuangan panjang bangsa Indonesia dalam mencapai kemerdekaan.
“Negara Kesatuan Republik Indonesia ini berdiri melalui perjuangan panjang selama 350 tahun dengan cucuran darah dan air mata. Jika kita menyadari hal ini, kita akan paham bahwa membangun negara bukanlah hal yang mudah,” tegasnya.
Menurutnya, kesadaran bernegara harus diwujudkan dalam tindakan nyata, bukan hanya sekadar menunggu anggaran dari pemerintah.
“Negara ini adalah nikmat Allah yang Agung, yang harus kita jaga dan syukuri. Jangan justru dikotori. Para pejabat pun harus memberikan contoh yang baik. Jangan hanya menunggu anggaran, tetapi harus rela berkorban. Keberhasilan program ketahanan pangan ini adalah cerminan kesadaran bernegara,” tambahnya.
Ia meyakini bahwa tanpa kesadaran bernegara, Indonesia tidak akan pernah maju. Oleh karena itu, Pesantren Jati Diri Bangsa hadir untuk membantu negara, salah satunya melalui program pelatihan ketahanan pangan yang diberikan secara gratis.***
Editor: Bakti Wijayanto
Editor : Hadiyin





