Lamongan, LINGKARWILIS.COM – Di balik gelapnya malam, para petani durian di Lamongan sibuk melakukan polinasi manual demi menghasilkan buah premium dengan rasa istimewa dan ukuran jumbo. Teknik kawin silang ini diyakini lebih efektif dibanding polinasi alami yang biasanya mengandalkan angin atau serangga.
Sholahudin, pemilik Durian Perkasa Farm di Desa Brangsi, Kecamatan Laren, menjadi salah satu pionir metode tersebut. Bersama timnya, ia fokus menyilangkan varietas unggulan Montong dengan Musang King dan Duri Hitam.
“Prosesnya hanya bisa dilakukan dalam waktu singkat, mulai pukul 17.00 hingga 21.00 saat bunga durian mekar. Dalam rentang itu, serbuk sari dari satu varietas harus segera ditempelkan ke putik bunga varietas lain,” jelasnya, Selasa (23/9/2025).
Baca juga : Mas Dhito Tegaskan Larangan Pungli di MPP Kabupaten Kediri
Menurut Sholahudin, cara ini sudah lama diterapkan oleh petani durian di Thailand dan terbukti meningkatkan keberhasilan pembuahan. Ia pun optimis panen musim ini akan memberikan hasil memuaskan dari total 1.400 pohon yang ditanam.
“Sekitar 900 pohon sudah berbunga, sisanya 500 pohon masih berproses. Pembungaan akan berlangsung bertahap hingga empat bulan ke depan,” tambahnya.
Waktu panen pun berbeda tiap varietas. Musang King dan Duri Hitam biasanya siap jatuh setelah 110–120 hari, sedangkan Montong dan Bawor yang berukuran lebih besar memerlukan 140–160 hari.
“Kalau tidak ada kendala, Januari mendatang kami sudah bisa mulai panen,” pungkasnya penuh harap.***
Reporter : Suprapto
Editor : Hadiyin
