LAMONGAN, LINGKARWILIS.COM — Dewan Pendidikan Lamongan (DPL) mengusulkan agar anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG) dialihkan sementara untuk penanganan dampak banjir yang melanda wilayah Bengawan Jero. Usulan tersebut disampaikan menyusul semakin meluasnya banjir yang berdampak langsung pada dunia pendidikan.
Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lamongan mencatat sedikitnya 63 sekolah terendam banjir. Sekolah-sekolah tersebut tersebar di lima kecamatan, yakni Turi, Kalitengah, Karanggeneng, Glagah, dan Karangbinangun.
Anggota Dewan Pendidikan Lamongan, M. Nur Ali Zulfikar, menilai bahwa dalam kondisi darurat bencana, pemerintah perlu melakukan penyesuaian kebijakan anggaran sesuai kebutuhan lapangan yang lebih mendesak.
“Jika program MBG tetap dijalankan dalam situasi banjir, dikhawatirkan kualitas makanan tidak bisa terjaga dengan baik karena keterbatasan sarana dan kondisi lingkungan yang tidak mendukung,” ujar Ali, Kamis (15/1/2026).
Baca juga : Panen Perdana Urban Farming di Kecamatan Mojoroto, Arahan Wali Kota Kediri Vinanda Terwujud Nyata
Menurutnya, anggaran MBG akan lebih tepat sasaran apabila dialihkan sementara untuk kebutuhan darurat masyarakat terdampak banjir, seperti penyediaan obat-obatan, bantuan sembako, pembersihan saluran air yang tersumbat, hingga kebutuhan khusus bagi anak-anak dan balita.
“Karena itu, kami mendorong Pemerintah Kabupaten Lamongan agar segera mengajukan usulan resmi kepada pemerintah pusat terkait pengalihan sementara anggaran MBG untuk penanganan banjir Bengawan Jero,” ungkap dosen Universitas Muhammadiyah Lamongan tersebut.
Selain persoalan anggaran, DPL juga menyoroti terganggunya proses belajar mengajar akibat banjir yang merendam puluhan sekolah. Ali meminta Dinas Pendidikan Lamongan mengambil kebijakan yang adaptif dan fleksibel.
Baca juga : MoU CSR Budidaya Lobster Ditandatangani, PT BA Sampoerna Dorong Kediri Jadi Penopang Ketahanan Pangan
“Kami berharap ada kebijakan khusus bagi sekolah terdampak, misalnya melalui pembelajaran daring atau metode alternatif lain yang lebih memungkinkan diterapkan di tengah kondisi banjir,” pungkasnya.***
Reporter : Suprapto
Editor : Hadiyin





