Tulungagung, LINGKARWILIS.COM – Kasus tragis yang melibatkan MA (23), warga Desa Sanggrahan, Kecamatan Boyolangu, Tulungagung, yang diduga menenggelamkan bayinya sendiri, menyisakan duka mendalam. Latar belakang kehidupan MA yang penuh keterbatasan dan kesepian sejak kecil turut menjadi sorotan banyak pihak, termasuk Pemerintah Kabupaten Tulungagung.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, MA sejak usia 3 tahun tinggal bersama neneknya, tanpa pernah mengetahui siapa ayah kandungnya. Sementara ibunya diketahui tinggal di Bali dan tidak pernah hadir dalam kehidupannya. Pada 2018, sang nenek meninggal dunia, membuat MA hidup seorang diri tanpa keluarga pendamping.
Kepala Dinas Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (KBPPPA) Tulungagung, dr. Kasil Rokhmad, menyampaikan bahwa pihaknya telah berkoordinasi dengan pemerintah desa untuk menangani kondisi MA. Bayi yang dilahirkan MA telah dimakamkan dan diberi nama Juli oleh warga setempat.
Baca juga : Lima Korban Tewas, DPRD Kabupaten Kediri Desak Penindakan Keras terhadap Peredaran Miras
Saat ini, MA dirawat di RSUD dr. Iskak untuk pemulihan pasca persalinan. Dinas KBPPPA memastikan pendampingan psikologis akan diberikan secara intensif. “Proses hukum tetap berjalan, namun fokus kami adalah membantu pemulihan kondisi mental dan fisik MA,” kata dr. Kasil, Selasa (5/8/2025).
Pihaknya juga mengatur jadwal pemeriksaan psikologi bagi MA serta menyiapkan tim untuk memantau perkembangan emosionalnya. Selain itu, langkah antisipatif juga disiapkan agar lingkungan sekitar tidak memberikan stigma negatif kepada MA.
Demi mendukung pemulihan, Kasil memastikan biaya perawatan MA tidak akan dibebankan, meski ia tercatat sebagai peserta BPJS. Koordinasi dengan manajemen RSUD dr. Iskak pun telah dilakukan untuk menjamin kebijakan tersebut.
Baca juga : PHRI Kediri Desak Pengawasan dan Aturan Ketat Terhadap Homestay dan Kos-kosan
“Kami menjamin pemenuhan hak-hak perempuan, termasuk bantuan konselor khusus untuk pemulihan psikologis,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Desa Sanggrahan, Iswanto, mengungkapkan bahwa warga tidak menunjukkan penolakan terhadap MA. Bahkan, masyarakat setempat turut bergotong royong membersihkan rumah MA, sebagai bentuk empati atas penderitaan yang dialaminya.
“Masyarakat di sini justru bersimpati setelah mengetahui cerita hidup MA. Tidak ada stigma, dan kami siap menyambutnya jika kelak kembali pulang,” ujar Iswanto.
Diketahui, MA hanya mengenyam pendidikan hingga sekolah dasar. Meski memiliki ibu kandung, keberadaannya tak jelas dan hanya disebut tinggal di Bali.***
Reporter :Sholeh Sirri
Editor : Hadiyin





