LINGKARWILIS.COM – Peristiwa tragis terjadi di sebuah rumah kos di kawasan Tanjung Duren, Jakarta Barat. Seorang penghuni kos ditemukan meninggal dunia setelah diduga mengalami gangguan asam lambung yang fatal. Ironisnya, jasad korban baru ditemukan dua hari setelah kematiannya.
Peristiwa ini menjadi viral di media sosial setelah sebuah video memperlihatkan proses evakuasi jenazah di Tanjung Duren, dalam video yang diunggah, akun X @neVerAl0nely jasad terlihat telah dibungkus dengan kantong jenazah berwarna oranye dan dibawa ke ambulans menggunakan keranda.
Menurut informasi yang beredar, korban tidak merespons pesan WhatsApp dari temannya setelah beberapa kali dihubungi tanpa hasil, kamar korban akhirnya didobrak dan ditemukan dalam kondisi sudah tak bernyawa.
Hingga kini, belum ada pernyataan resmi dari pihak berwenang mengenai penyebab pasti kematian korban. Namun, narasi yang beredar di media sosial menyebutkan bahwa korban meninggal akibat komplikasi asam lambung atau gastroesophageal reflux disease (GERD).
Remaja di Ponorogo Meninggal Usai Latihan Silat, Polisi Dalami Dugaan Duel 1 Lawan 1
Kejadian ini menyentuh banyak netizen yang mengaitkan pentingnya menjaga kesehatan lambung dengan kesehatan mental dan gaya hidup.
“Please buat temen-temen semua di sini penting banget benerin pola pikir karena lambung itu otak kedua kita,”Β tulis salah satu pengguna media sosial.
Sejumlah netizen lain juga membagikan pengalaman pribadi mereka terkait penyakit lambung, mulai dari gejala ringan hingga muntah darah akibat luka lambung yang parah.
Menurut para ahli, GERD atau penyakit asam lambung memang tidak secara langsung menyebabkan kematian mendadak seperti serangan jantung tetapi ika dibiarkan tanpa penanganan, GERD bisa memicu berbagai komplikasi serius.
Remaja 17 Tahun di Ponorogo Meninggal Saat Latihan Silat, Polisi dan RS Ungkap Temuan Awal
Gejala umum GERD meliputi nyeri dada (heartburn), mual, muntah, sesak napas, dan rasa asam di mulut. Dalam kasus kronis, asam lambung dapat merusak jaringan kerongkongan dan meningkatkan risiko masalah pernapasan hingga kanker esofagus.
Kondisi ini biasanya dipicu oleh melemahnya otot katup antara lambung dan kerongkongan (LES), yang memungkinkan asam naik kembali.
Faktor risiko meliputi kebiasaan merokok, kelebihan berat badan, stres berlebih, konsumsi makanan tertentu, serta kebiasaan langsung berbaring setelah makan.
Peristiwa di Tanjung Duren ini menjadi pengingat keras akan pentingnya mengenali dan menangani gangguan lambung secara serius. Kesehatan mental dan fisik, menurut banyak komentar warganet, kini harus berjalan beriringan demi mencegah kasus tragis seperti ini terulang.
Editor: Shadinta Aulia Sanjaya





