LINGKARWILIS.COM – Fenomena pengemis kaya raya dengan kekayaan melimpah kembali mencuri perhatian, kali ini pengemis di Ponorogo yang berhasil diamankan Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos P3A).
Diamankan seorang pengemis berinisial WN, warga Kabupaten Madiun bersama anaknya yang berusia 2,5 tahun. Dalam penemuan itu, Dinsos mengetahui WN mampu menumpulkan uang sebanyak Rp200 ribu per hari dan apabila dihitung totalnya mencapai Rp6 juta per bulan.
Penemuan pengemis kaya raya tidak hanya di Ponorogo saja, di berbagai daerah juga kerap ditemukan individu yang menjadikan meminta-minta sebagai mata pencaharian tetap.
Ironisnya, di balik penampilan lusuh dan kisah pilu yang mereka sampaikan, sebagian dari mereka justru memiliki rumah besar, kendaraan pribadi, bahkan tabungan hingga jutaan rupiah.
Fakta ini menimbulkan pertanyaan besar: apakah mengemis telah berubah dari sekadar kebutuhan agar menjadi “profesi” yang menguntungkan?
Dinsos Ponorogo Razia Pengemis, Ada yang Raup Rp 400 Ribu Sehari
Makna Pengemis
Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 1980, gelandangan adalah individu yang hidup tanpa tempat tinggal dan pekerjaan tetap, serta mengembara di tempat umum dengan kondisi tidak layak.
Sementara itu, pengemis adalah orang yang mencari penghasilan dengan meminta-minta di tempat umum, mengandalkan belas kasihan orang lain.
5 Fenomena Pengemis Kaya Raya
1. Pengemis Kediri Bawa Uang Rp 40 Juta
Seorang pengemis di Kota Kediri, Jawa Timur, terjaring razia oleh Satpol PP setelah adanya keluhan dari masyarakat terkait cara agresifnya meminta uang.
Pengemis berinisial A, yang merupakan warga Kecamatan Mojoroto, diamankan di Jalan Kawi pada Rabu (12/2/2025). Saat dirazia, petugas menemukan uang tunai sekitar Rp 40 juta yang disimpan dalam tas dan plastik, terdiri dari pecahan kecil hingga ratusan ribu rupiah yang telah dibundel rapi.
Menurut Kepala Bidang Ketentraman dan Ketertiban (Kabid Tramtib) Satpol PP Kota Kediri, Agus Dwi Ratmoko, pengemis tersebut diketahui sering meminta uang dengan cara menggebrak kendaraan atau mencolek pengendara.
Ia beroperasi dari pagi hingga malam di lokasi yang sama dan mengaku bisa memperoleh sekitar Rp 150.000 hanya dalam waktu 2-3 jam.
Penindakan ini dilakukan sebagai respons terhadap keresahan masyarakat yang terganggu oleh aktivitas pengemis tersebut. Kasus ini juga menjadi sorotan karena menunjukkan bahwa mengemis masih menjadi praktik yang menguntungkan bagi sebagian orang, meskipun bertentangan dengan aturan yang berlaku.
2. Pengemis Bogor Tinggal di Rumah 2 Tingkat
Seorang pengemis di Kota Bogor bernama Erik menjadi perbincangan publik setelah ditemukan memiliki uang tunai sebesar Rp 56,9 juta yang disimpan di dalam celana berlapis.
Meskipun penampilannya menyerupai gelandangan, terungkap bahwa Erik sebenarnya memiliki rumah berlantai dua yang layak huni di kawasan padat penduduk, tepatnya di Pintu Ledeng, Kecamatan Ciomas, Kabupaten Bogor.
Menurut keterangan adiknya, Ester, Erik telah lama mengemis dan berhasil mengumpulkan uang dalam jumlah besar tanpa menerima warisan.
Uang tersebut disimpan di tempat yang tidak terduga, yaitu di dalam lima lapis celana yang dikenakannya. Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial, Dody Wahyudin, juga menegaskan bahwa uang yang dimiliki Erik murni hasil dari aktivitas mengemis, berdasarkan keterangan keluarga dan pemerintah desa setempat.
Kasus ini menjadi sorotan netizen karena menunjukkan bagaimana mengemis bisa menjadi sumber pendapatan yang menggiurkan bagi sebagian orang, meskipun sering kali dianggap sebagai profesi yang identik dengan kemiskinan.
3. Pengemis Raub Rp 15 Juta Per Bulan
Seorang pria lanjut usia bernama Suwadi alias Suaedi (75) asal Mojokerto, Jawa Timur, terjaring razia saat mengemis di Kabupaten Sidoarjo pada Minggu (14/6/2015). Suaedi, yang mengenakan kostum karakter Winnie The Pooh saat meminta-minta, mengaku mampu meraup penghasilan hingga Rp 15 juta per bulan, dengan pendapatan harian berkisar antara Rp 300.000 hingga Rp 500.000.
Selain memiliki penghasilan yang cukup besar dari mengemis, Suaedi juga mengungkapkan bahwa ia memiliki tujuh istri dan lima anak yang sudah berkeluarga.
Ia biasanya berangkat dari Mojokerto ke Sidoarjo pada pagi hari, lalu berganti kostum Winnie The Pooh di sekitar Lippo Plaza dan Jalan Pahlawan sebelum mulai beraksi. Untuk menarik simpati, ia bahkan mengubah posisi tangannya agar terlihat seperti orang dengan disabilitas.
Hasil penelusuran Dinas Sosial Sidoarjo mengungkap bahwa Suaedi ternyata tinggal di rumah yang tergolong besar dan lebih bagus dibandingkan dengan rumah para tetangganya.
Kasus ini kembali menyoroti fenomena pengemis berkedok kesulitan ekonomi yang ternyata memiliki kondisi finansial lebih baik dari yang terlihat.
4. Pengemis Asal Sampit Punya Mobil dan Kartu Kredit
Seorang pengemis kaya terjaring razia gelandangan dan pengemis di Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah. Pengemis yang diketahui bernama Arif Komady ini mengejutkan petugas karena memiliki mobil sedan, kartu ATM, dan kartu kredit.
Kepala Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kotawaringin Timur, Bima Ekawardhana, mengungkapkan bahwa dalam razia yang digelar pada Sabtu sore, Arif ditemukan bersama dua pengemis lainnya di kawasan Taman Kota dan ikon kota Patung Jelawat. Arif mengaku berasal dari Banjarmasin, Kalimantan Selatan, yang diperkuat dengan bukti nomor polisi mobilnya.
Saat diperiksa, Arif mengaku datang ke Sampit bersama istri dan anaknya dengan tujuan mengemis. Ia memanfaatkan kondisi fisiknya yang cacat untuk menarik belas kasihan masyarakat.
Namun, fakta bahwa ia memiliki kendaraan pribadi dan fasilitas keuangan menunjukkan bahwa ia bukanlah pengemis yang benar-benar hidup dalam keterbatasan.
Kasus ini menjadi sorotan karena menyingkap fenomena pengemis yang sebenarnya memiliki kondisi finansial lebih baik dari yang terlihat, namun tetap memilih meminta-minta sebagai sumber penghasilan.
5. Legiman Sukses Miliaran
Seorang pengemis bernama Legiman (52) diamankan petugas di kawasan Simpang Lima, Pati, Jawa Tengah, pada Sabtu (12/1/2019). Saat dimintai keterangan, ia mengungkapkan bahwa dirinya memiliki harta kekayaan lebih dari Rp 1 miliar.
Legiman diketahui telah membangun rumah senilai Rp 250 juta di atas tanah yang dibelinya seharga Rp 275 juta. Selain itu, ia juga memiliki tabungan di bank sebesar Rp 900 juta.
Sebagai warga Perumahan Ngawen, Kecamatan Margorejo, Pati, Legiman tetap memilih mengemis meskipun memiliki aset yang cukup besar. Saat diamankan, ia kedapatan membawa uang tunai Rp 695.000. Dalam kesehariannya, ia mengaku bisa mendapatkan penghasilan sekitar Rp 1 juta per hari dari meminta-minta.
Kasus ini kembali mengungkap fenomena pengemis dengan kekayaan melimpah yang masih mengandalkan belas kasihan orang lain untuk memperkaya diri.
Pengemis Kini Jadi Profesi?
Fenomena maraknya pengemis di Indonesia dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik internal maupun eksternal. Menurut Ahmad (2010), faktor-faktor tersebut dapat mendorong seseorang untuk beralih profesi menjadi pengemis.
Salah satu penyebab utama adalah rendahnya tingkat pendidikan yang berujung pada keterbatasan ekonomi. Kondisi ini membuat beberapa orang, bahkan satu keluarga sekaligus, memilih mengemis sebagai mata pencaharian.
Namun, penelitian Anggriana & Dewi (2016) menunjukkan bahwa faktor utama bukan hanya rendahnya pendidikan atau kurangnya keterampilan, melainkan juga keengganan untuk berusaha mengubah hidup menjadi lebih baik.
Banyak pengemis yang lebih memilih cara instan untuk mendapatkan penghasilan tanpa harus bekerja keras. Sikap malas dan keinginan untuk hidup berkecukupan tanpa usaha yang signifikan menjadi alasan lain di balik keputusan mereka untuk tetap mengemis di jalanan.
Editor: Shadinta Aulia Sanjaya