LINGKARWILIS.COM – Bermain di dekat rel kereta api mungkin terlihat menyenangkan bagi sebagian anak atau remaja, tetapi perilaku ini sangat berbahaya.
Banyak insiden tragis telah terjadi akibat kelalaian orang yang bermain atau berada terlalu dekat dengan rel kereta api.
Sehingga ada beberapa resiko bahaya yang harus diwaspadai saat berada di dekat rel kereta api, karena jika tidak akan berujung nyawa.
Maka dari itu ada beberapa alasan mengapa bermain di dekat rel kereta api sangat berisiko dan harus dihindari terutama anak-anak.
1 Risiko Tertabrak Kereta Api
Kereta bergerak dengan kecepatan tinggi dan membutuhkan jarak yang cukup panjang untuk berhenti sepenuhnya bahkan setelah rem darurat diaktifkan.
Orang yang berada di jalur perlintasan atau di sekitarnya mungkin tidak sempat menghindar tepat waktu, terutama karena kereta tidak dapat berhenti mendadak seperti kendaraan lain.
Selain itu, suara kereta yang melaju cepat sering kali tidak terdengar dari jarak yang jauh. Kondisi angin atau gangguan suara lainnya dapat menghalangi seseorang menyadari kedatangan kereta, banyak kecelakaan yang terjadi karena korban tidak menyadari bahwa kereta sudah sangat dekat.
Salah satu contoh kejadiannya seperti peristiwa di Karawang, Kereta Api Fajar menabrak empat orang yang sedang asyik bermain di sekitar rel pada Minggu (22/9) pagi pukul 07.00 WIB.
2 Kecelakaan Akibat Medan yang Berbahaya
Jalur perlintasan kereta sering kali berada di tempat-tempat yang memiliki kondisi medan berbahaya, seperti jembatan, terowongan, atau lereng curam.
Melakukan aktivitas di area tersebut menambah risiko terjatuh atau terjebak tanpa ada cara untuk menyelamatkan diri.
Misalnya, terjebak di jembatan ketika kereta datang bisa menyebabkan cedera parah atau bahkan kematian.
3 Sengatan Listrik dari Rel atau Kabel
Beberapa sistem kereta menggunakan listrik bertegangan tinggi untuk menggerakkan kereta terutama di jalur-jalur perkotaan.
Kabel atau perlintasan listrik dapat menyebabkan sengatan listrik mematikan jika disentuh atau bahkan jika berada terlalu dekat.
Anak-anak yang tidak mengerti tentang bahaya ini berisiko mengalami luka bakar serius atau kehilangan nyawa karena kesalahan yang tampaknya sepele.
4 Gangguan Kesehatan Mental dan Trauma pada Pengemudi Kereta
Tidak hanya berbahaya bagi orang yang berada di jalur perlintasan, kecelakaan juga dapat menyebabkan trauma bagi pengemudi kereta (masinis) yang menyaksikan atau mengalami kecelakaan.
Meskipun kereta tidak dapat berhenti seketika, masinis masih akan merasa bertanggung jawab atas kecelakaan yang terjadi di jalur yang mereka lewati.
Trauma tersebut bisa berkepanjangan dan berdampak buruk bagi kesehatan mental mereka.
5 Penegakan Hukum dan Denda
Beberapa negara, termasuk Indonesia kerap kali melakukan aktivitas di sekitar jalur perlintasan kereta tanpa izin.
Orang yang tertangkap melakukan aktivitas ini bisa dikenai denda atau hukuman penjara jika ketahuan pihak kereta api.
Selain membahayakan diri sendiri, hal ini juga merugikan pihak berwenang dan pengelola kereta karena harus menangani gangguan di jalur kereta yang dapat mempengaruhi jadwal perjalanan.
6 Dampak pada Kelancaran Lalu Lintas Kereta Api
Bermain atau berkumpul di sekitar jalur perlintasan dapat mengganggu operasional kereta.
Ketika ada gangguan di jalur kereta, pengemudi harus memperlambat laju atau bahkan berhenti total, yang dapat menyebabkan keterlambatan jadwal.
Hal ini tidak hanya merugikan penumpang, tetapi juga merugikan ekonomi dan efisiensi transportasi secara keseluruhan.
Melakukan aktivitas dan bermain di dekat rel kereta api adalah tindakan yang sangat berbahaya dan tidak boleh dianggap remeh.
Keselamatan harus menjadi prioritas utama, terutama ketika berhadapan dengan infrastruktur transportasi seperti rel kereta api.
Orang tua dan guru harus memberikan edukasi kepada anak tentang bahaya bermain di area ini, serta menanamkan pemahaman bahwa rel kereta bukanlah tempat untuk bermain.
Dengan pengetahuan dan kesadaran yang lebih baik, diharapkan insiden tragis akibat kecelakaan di rel kereta api bisa diminimalisir atau dihindari sepenuhnya.
Penulis: Rafika Pungki Wilujeng
Editor: Shadinta Aulia Sanjaya



