Tulungagung, LINGKARWILIS.COM — Kesenian tradisional Jaranan Sentherewe yang telah eksis selama puluhan tahun di Kabupaten Tulungagung kini resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Tulungagung, Ardian Chandra, menjelaskan bahwa kesenian ini telah diusulkan sejak awal 2024 dan akhirnya ditetapkan pada 22 Februari 2026.
“Jaranan Sentherewe diusulkan karena telah memenuhi syarat, seperti usia minimal 50 tahun serta memiliki kajian historis. Proses penetapannya juga cukup panjang,” ujarnya, Minggu (5/4/2026).
Penyerahan penghargaan WBTB tersebut dilakukan oleh Khofifah Indar Parawansa kepada Bupati Tulungagung Gatut Sunu Wibowo.
Baca juga : SPPG Wajib Miliki Minimal 15 Supplier, Sejumlah SPPG di Tulungagung Masih di Bawah Standar
Menurut Ardian, setelah resmi menjadi WBTB, pihaknya akan memprioritaskan Jaranan Sentherewe untuk tampil dalam berbagai kegiatan seremonial sebagai upaya pelestarian.
“Ini menjadi langkah penting agar kesenian ini tetap dikenal generasi sekarang, baik di Tulungagung maupun luar daerah,” jelasnya.
Ia menambahkan, penetapan tersebut juga menjadi fondasi dalam memperkuat identitas budaya daerah, sehingga pelestarian kesenian ini harus terus dilakukan secara berkelanjutan.
Sebagai informasi, Jaranan Sentherewe telah berusia sekitar 68 tahun dan menjadi bagian penting dalam kehidupan budaya masyarakat Tulungagung. Kesenian ini lahir pada 1958 sebagai inovasi dari seniman tradisional yang ingin menghidupkan kembali minat masyarakat terhadap kesenian jaranan.
Baca juga : Hari Jadi ke-1222 Kabupaten Kediri, Mas Dhito Gelar Tasyakuran dan Santunan sebagai Ajang Silaturahmi
Jaranan Sentherewe sendiri merupakan perpaduan antara kesenian jaranan Jawa dengan ludruk, yang memadukan gerak tari khas seperti tari ngremo dengan unsur jaranan.
“Sangat penting bagi kami untuk menjaga kelestariannya, salah satunya dengan menampilkan dalam berbagai kegiatan, termasuk pembukaan Kejurprov I Woodball Jawa Timur 2026,” pungkasnya.***
Reporter : Sholeh Sirri
Editor : Hadiyin





