Gaza, LINGKARWILIS.COM – Situasi di Jalur Gaza kian memprihatinkan dengan jumlah syuhada yang telah mencapai 44.056 jiwa, sementara korban luka melampaui 104.268 orang, menyusul serangkaian serangan udara brutal yang dilakukan oleh pasukan pendudukan Israel. Dalam 24 jam terakhir, sedikitnya lima pembantaian massal terhadap keluarga-keluarga Palestina dilaporkan.
Kantor berita Palestina, Wafanews, menyebutkan, laporan medis pada Kamis (20/11) menyebutkan tambahan 71 warga Palestina gugur dan 176 lainnya terluka akibat serangan terbaru. Namun, angka ini diperkirakan terus bertambah karena banyaknya korban yang masih terjebak di bawah reruntuhan bangunan.
Layanan darurat di Gaza menghadapi kendala besar, dengan pasukan Israel menghalangi pergerakan ambulans dan tim penyelamat. Akibatnya, ribuan korban belum bisa dievakuasi, baik yang meninggal maupun terluka. Sedikitnya 10.000 orang dinyatakan hilang, diduga tertimbun di bawah reruntuhan rumah mereka.
Korban Didominasi Perempuan dan Anak-anak
Organisasi Palestina dan internasional melaporkan bahwa mayoritas korban jiwa dan luka adalah perempuan serta anak-anak. Hal ini mencerminkan skala kehancuran yang tak pandang bulu akibat agresi tersebut.
Eksodus Terbesar Sejak Nakba 1948
Selain korban jiwa dan luka, agresi ini telah memaksa hampir dua juta warga Gaza mengungsi secara paksa. Sebagian besar dari mereka kini berada di Rafah, kota padat di selatan Gaza dekat perbatasan Mesir. Ini menjadi eksodus terbesar sejak peristiwa Nakba 1948, yang mengusir ribuan rakyat Palestina dari tanah mereka.
Situasi ini menegaskan dampak genosida yang terus berlangsung di Gaza, sementara masyarakat internasional menyerukan tindakan mendesak untuk menghentikan penderitaan rakyat Palestina. ***
Editor: Hadiyin





