LINGKARWILIS.COM – Tanggal 14 Februari mungkin menjadi salah satu hari yang akan selalu diingat oleh masyarakat Kediri dan sekitarnya.
Bukan merayakan hari valentine dengan penuh kasih sayang, tepat pada 14 Februari 2014 justru menjadi suasana yang mencekam bagi masyarakat Kediri.
Tanggal 14 Februari 2014 yang bertepatan dengan momen valentine, Gunung Kelud mengalami erupsi dahsyat yang membuat masyarakat gempar.
Erupsi ini merupakan aktivitas seismik yang dimulai pada awal Februari 2014, tepatnya pada tanggal 2 Februari 2014.
Pada tanggal 2 Februari 2014, status Gunung Kelud naik ke level waspada hingga akhirnya erupsi pada Kamis, 13 Februari 2014.
Erupsi yang terjadi di tengah malam tersebut melontarkan material vulkanik hingga menutupi hampir seluruh Pulau Jawa.

Erupsi yang terjadi di tahun 2014 ini dianggap lebih dahsyat dibandingkan dengan yang terjadi pada tahun 1990.
Meskipun berlangsung kurang dari dua hari dan menyebabkan empat korban jiwa akibat peristiwa ikutan (bukan langsung dari letusan) dampaknya sangat besar.
Peningkatan aktivitas vulkanik mulai terdeteksi pada akhir tahun 2013, namun situasi sempat tenang sebelum akhirnya status gunung diumumkan naik dari Normal menjadi Waspada pada 2 Februari 2014.
Pada 10 Februari 2014, status gunung ditingkatkan menjadi Siaga, dan pada tanggal 13 Februari pukul 21.15, statusnya dinaikkan ke Awas (Level IV) yang merupakan status bahaya tertinggi.
Hal tersebut membuat wilayah dalam radius 10 km dari puncak gunung harus dikosongkan.
Dalam waktu kurang dari dua jam, atau tepatnya pada pukul 22.50, terjadi letusan tipe ledakan (eksplosif), yang mirip dengan letusan pada tahun 1990.
Erupsi ini mengakibatkan hujan kerikil dan pasir yang lebat di Kecamatan Ngancar, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, bahkan hingga Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri.
Wilayah Kecamatan Wates dijadikan tempat pengungsian bagi warga yang tinggal dalam radius 10 km dari kubah lava.
Gunung Kanlaon di Filipina Meletus, 45.000 Warga Mengungsi di Pulau Negros
Hal ini sesuai rekomendasi dari Pusat Vulkanologi, Mitigasi, dan Bencana Geologi (PVMBG).
Suara ledakan bahkan terdengar hingga Kota Surabaya, Solo, Yogyakarta (sekitar 200 km dari pusat letusan), dan Purbalingga, Jawa Tengah (sekitar 300 km).
Pada 14 Februari 2014 dini hari, dampak abu vulkanik dilaporkan telah mencapai Kabupaten Ponorogo.
Di Yogyakarta, hampir seluruh wilayah tertutup abu vulkanik dengan ketebalan lebih dari 2 cm, bahkan melebihi abu vulkanik dari letusan Merapi pada tahun 2010.
Kabupaten Kebumen juga terdampak dengan ketebalan abu vulkanik mencapai 3 cm, yang kemudian menjadi hujan lumpur setelah diikuti oleh hujan air.
Dampak abu vulkanik meluas ke arah Barat, mencapai Kabupaten Ciamis, Bandung, dan beberapa daerah di Jawa Barat.
Di Madiun dan Magetan, jarak pandang sangat terbatas akibat hujan abu, yang membuat kendaraan bermotor harus melaju pelan.
Hujan abu yang disebabkan oleh letusan ini juga melumpuhkan sebagian besar aktivitas penerbangan di Pulau Jawa, dengan tujuh bandara di Yogyakarta, Surakarta, Surabaya, Malang, Semarang, Cilacap, dan Bandung ditutup.
Penutupan bandara ini menyebabkan kerugian keuangan yang diperkirakan mencapai miliaran rupiah, termasuk sekitar 2 miliar rupiah di Bandara Internasional Juanda, Surabaya.
Sektor manufaktur dan industri pertanian juga mengalami kerugian yang cukup signifikan.
Salah satu perusahaan yang terdampak adalah Unilever Indonesia yang kesulitan mendistribusikan produk di wilayah terdampak.
Sementara itu kebun apel di kota Batu, Jawa Timur, mencatat kerugian mencapai Rp 17,8 miliar, dan industri susu di provinsi tersebut juga terdampak berat.
Setelah letusan, kondisi gunung perlahan kembali tenang. Pada 20 Februari 2014, status aktivitas gunung diturunkan dari Awas menjadi Siaga (Level III), dan pada 28 Februari 2014 statusnya kembali turun menjadi Waspada (Level II).
Akibat letusan, kubah yang menyumbat jalur keluar lava hancur, meninggalkan kawah kering, dengan kemungkinan terbentuknya danau kawah dalam beberapa tahun mendatang.
Pada awal Maret, sebagian besar dari 12.304 bangunan yang rusak atau hancur selama letusan telah diperbaiki, dengan perkiraan biaya perbaikan mencapai Rp 55 miliar.
Penulis: Rafika Pungki Wilujeng
Editor: Shadinta Aulia Sanjaya





