LINGKARWILIS.COM – Kesadaran akan keberlanjutan lingkungan yang semakin meningkat mendorong perkembangan industri arang berbasis kayu di Jombang. Selain menawarkan solusi ramah lingkungan, usaha ini juga membuka peluang ekonomi bagi warga setempat.
Di Dusun Balongbendo, Desa Kedunglumpang, Kecamatan Mojoagung, Jombang, para pengrajin arang masih aktif menjalankan produksi. Salah satunya adalah Nur Muslikah (45) yang telah berkecimpung di industri ini selama 15 tahun.
Proses pembuatan arang dimulai dengan pemilihan kayu yang masih basah. Kayu tersebut kemudian dimasukkan ke dalam tungku berbentuk kerucut untuk menjalani proses pembakaran.
“Setelah itu, ratusan potongan kayu dengan berbagai ukuran disusun di samping tungku. Beberapa pekerja juga sibuk menyeleksi serta mengemas arang sebelum dikirim ke pelanggan,” ungkap Nur.
7 Shio yang Beruntung di 2025, Saatnya Bersinar di Tahun Ular Kayu
Proses produksi arang sendiri memakan waktu hingga sepuluh hari. Kayu dipanaskan dalam kondisi minim oksigen agar menghasilkan arang berkualitas yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar maupun pupuk organik.
“Dulu, pembuatan arang dilakukan secara manual. Sekarang, prosesnya lebih ramah lingkungan karena asap yang dihasilkan tidak sebanyak sebelumnya,” jelasnya.
Bahan baku yang digunakan beragam, seperti kayu mangga dan kayu sonokembang. Namun, permintaan pelanggan juga berpengaruh terhadap campuran kayu yang digunakan. “Restoran di Surabaya, misalnya, meminta campuran kayu tertentu, sementara untuk ekspor, kami bekerja sama dengan pengrajin di Jawa Timur,” paparnya.
Untuk pasar ekspor, jenis kayu yang digunakan lebih spesifik, seperti kayu tamarin atau kayu asam yang memiliki harga lebih tinggi. “Arang dari kayu tamarin dijual seharga Rp 5.000 hingga Rp 7.000 per kilogram, sementara arang kayu biasa berkisar Rp 3.000 hingga Rp 3.200 per kilogram,” katanya.
3 Resep Menu Makanan Simple yang Wajib Kalian Recook, Cocok untuk Anak Kos!
Dengan potensi besar yang dimiliki, industri arang di Jombang tidak hanya berperan dalam mengolah limbah kayu, tetapi juga berkontribusi terhadap ekonomi masyarakat secara berkelanjutan.
Selain sebagai bahan bakar efisien, arang juga bermanfaat dalam sektor pertanian sebagai pupuk organik yang dapat meningkatkan kesuburan tanah. “Dengan usaha ini, kami tidak hanya mendapatkan penghasilan, tetapi juga membantu menjaga lingkungan,” pungkas Nur. (St2/ag)
Editor: Shadinta Aulia Sanjaya





